Go around, meet peoples, see how do they work..
and then we will have experiences to connecting the 'dots'
Banyak kalimat kalimat bermunculan dari orang ini seakan hal hal yang dibicarakan sudah embeded dalam dirinya . Ia bercakap mengenai menjadi seorang pemimpin yang inovatif semudah kita bicara tentang masa kecil kita, tidak banyak teori..tapi semua bermakna dan mengena.
Awalnya beberapa bulan yl saya sempat membaca blog dan twitter @handryGE selintas saja. saya waktu itu hanya berfikir, manusia ini sepertinya manusia yang istimewa. Tapi sejauh apa keistimewaannya karena saya belum pernah bertemu , maka saya fikir dia seperti halnya orang orang yang meraih kesuksesan di usia muda , menjadi manusia Indonesia pertama yang menduduki jabatan CEO General Electric. Tapi saya yakin, Handry Satriago tidak hanya istimewa karena prestasinya, dia istimewa karena meraih itu semua dengan keterbatasan fisiknya.
Tidak salah feeling saya bahwa saya harus bertemu manusia satu ini..dan kesempatan itu saya dapatkan ketika melihat twitter bahwa akan ada acara Akber (akademi Berbagi) di Bandung menghadirkan beliau.
Dan malam itu, di cuaca yang dingin dan basah setelah kota Bandung seharian diguyur hujan, kurang lebih 30 orang berkumpul dan berbagi. sebagian besar berusia muda , mahasiswa atau yang baru lulus kuliah. Sepertinya hanya saya dan teman saya yang berusia diatas 30 tahun. Tapi tak apa, karena belajar itu sampai liang lahat kan?
Banyak tips tips menjadi seorang pemimpin yang inovatif diberikan beliau, dari mulai jangan takut mencoba sesuatu yang baru, bahwa bisnis kita harus memperhatikan 'costumer need first',bagaimana sebuah 'value' diciptakan dan branding terbentuk dengan kuat..
Banyak seminar dan ceramah bisnis mengupas soal branding dan values, tapi dia mengupas dengan indah, membawakan dengan 'passion' dibalik kalimat bercampur bahasa inggris. He's passionate.
Saya menandai beberapa hal..terutama mengenai bahwa untuk berinovasi menjadi kreatif yang kita butuhkan adalah wawasan. wawasan adalah 'the dots' , ketika kita mengalami sesuatu, mencerap sesuatu, menangkap makna dari bacaaan maka itulah titik titik yang bertebaran di sel sel berwarna abu abu di kepala kita menunggu sebuah keterhubungan..
Dan ketika sebuah kesulitan datang, tantangan menghadang maka setiap titik itu akan tersambung satu sama lain, menyumbangkan wawasan, memberikan inspirasi baru atas pemecahan masalah.
Dan apa jadinya ketika kita kurang wawasan dan pengalaman ? there's no dots in our mind, then if theres no dots at all then how we connect the dots, rite?
Dan saya seperti mendapatkan legalisasi atas perbuatan perbuatan saya selama ini, yang tidak pernah diam , tidak fokus, ingin pergi membawa anak anak berpetualang ke tempat tempat baru, dan selalu ingin mengerjakan hal baru . Mungkin itulah titik titik yang menunggu untuk dihubungkan satu sama lain..menghasilkan kreativitas dan inovasi baru
Banyak hal positif yang saya ambil dari pertemuan tadi malam, kesan sederhana, menghargai setiap orang dengan baik tertanam kuat. Tidak ada judging ketika salah seorang peserta membicarakan figur para pemimpin kita, dia hanya mengatakan "Do the right things right..' mengerjakan sesuatu yang benar dengan cara yang benar pula. thats it..
Dan kebersahajaannya semakin terasa ketika saya menyodorkan buku "Tak Akan Menyerah" dan bicara bahwa saya salah satu penulis dalam buku itu dengan serta merta dia meminta tandatangan saya sambil menyobek plastik pembungkus buku . waaa..kagetnya..dan saya menangkap bahwa ketulusan, kebersahajaannya bukan basa basi semata, dia memang terlahir dan besar dengan jiwa besar.
congrats @handryGE you've already find yourself
Thursday, December 12, 2013
Saturday, December 7, 2013
Tak Akan Pernah Menyerah
Rasanya saya tidak akan pernah dapat membaca buku itu untuk kedua kalinya
Tidak..bukan karena tulisannya tidak enak dibaca atau pun tidak menarik..
Tetapi karena saya merasa sangat terlibat dengan semua penulis dalam buku itu
I know them personally...
Ketika buku 'Tak Akan Menyerah' akhirnya sampai di tangan, perasaan saya campur aduk karena ini buku kedua yang saya hasilkan setelah buku 'Petualangan Alam' yang ditulis bersama suami saya,Ihsan beberapa tahun yl. Lebih banyak rasa haru sebetulnya dibandingkan rasa bahagia karena telah dapat membuat jejak jejak baru selain di blog dan media sosial lainnya. Terharu seperti laiknya seorang ibu yang mengandung seorang bayi, tertatih dalam proses, merasakan energi yang terkuras karena ini bukan fiksi..karena meskipun hanya dalam delapan lembar pun harus menceritakan secuil hidup saya yang tidak ada apa apanya dibandingkan 9 wanita lain dengan ketangguhan luar biasa mereka.
Menulis mengenai hidup, kebahagiaan, kesedihan dan perasaan itu tidak mudah, karena energi yang berlimpah ruah dan semua rasa bercampur aduk seperti halnya pregnancy blues yang dirasakan seorang ibu yang menanti kelahiran jabang bayi. Dan ketika waktunya tiba, sang jabang bayi terlahir, seluruh energi terlepas, dan saya tersadar bahwa salah satu bagian hidup saya dan 9 penulis lainnya menjadi bagian dari publik dan reaksi atas kelahiran sang jabang bayi akan bermunculan..
Dan ketika 500 eksp buku telah terjual hanya dalam waktu kurang dari dua minggu saya berdebar debar menanti komentar awal dari para pembaca..maklum para penulis adalah penulis amatir macam saya yang sebelumnya belum pernah menuliskan buku - kecuali kak Sari Meutia.
Reaksi pun berdatangan dari para pembaca awal yang kita kenal...
sebagian besar meresapi hikmah dalam buku itu dan menyampaikan komentarnya
Guru anak saya berkata 'Saya baru membaca dua tulisan dan saya tidak mampu menahan tangis saya, semoga Allah terus memberi kekuatan pada bunda dan penulis lainnya .'
sebuah grup whatsapp membahas isi buku tersebut sampai tengah malam dengan kesimpulan 'Masalah kita tidak ada apa apanya ya dengan mereka..dan tak layak kita sering misuh misuh..'
Bahkan beberapa teman yang sering bergaul bersama saya dan Mba Niken tidak menyangka di balik obrolan santai, tertawa cekikikan sambil sarapan bersama ternyata ada seorang wanita penderita penyakit berat dan seorang wanita yang pernah mengalami berkali kali kesedihan yang sangat mendalam ketika ditinggalkan anak anak yang dicintainya...
Reaksi dari para pembaca awal itu membuat saya sangat terharu karena akan sangat banyak yang mendoakan kami diberi kekuatan, kesehatan, dan ketabahan . Pada dasarnya kami wanita biasa, yang ketika lelah,putus asa merasa ingin menyerah. Saya sangat sadar bahwa sangat mungkin ada lebih banyak wanita dengan masalah sehari hari yang jauh..jauh lebih berat daripada yang dialami para penulis dalam buku ini..
Tapi paling tidak akan ada saham di negeri akhirat sana yaitu ada suatu masa ketika orang membaca buku itu, terinspirasi, mendapatkan energi baru dan merasakan perasaan senasib sepenanggungan . Dan ketika doa terucap untuk kami - yang bisa jadi suatu masa itu kami sudah tidak ada di sini- itulah yang akan menjadi saham . Bukankah ilmu yang bermanfaat itu yang akan mengalirkan energi penggugur dosa selama di dunia?
semoga...
Dan sungguh saya menulis ini sambil terharu biru dan penuh rasa syukur karena 'wanita..kita tidak sendiri...'
ps
Mengundang semua untuk hadir di talkshow mengenai rahasia kekuatan wanita dan launching buku 'Tak akan menyerah'
Sabtu,21 desember 2013, 12.30 -17.00 GSG salman ITB, jl ganesha Bandung
free entry
rsvp :08121405647
twitter :@AABCommunity
Wednesday, December 4, 2013
dunia yang dilipat..
seseorang menulis dengan huruf besar, berulangkali mem'ping', memakai tanda seru seakan hal penting di dunia adalah yang ingin dia katakan, tanpa melihat apakah lawan bicaranya sedang rapat penting, menyetir atau bahkan hanya sekedar kehabisan batere sehingga telat me respons
Itulah dunia maya, ketika beberapa tahun belakangan betapa semua manusia menjadi dekat satu sama lain, waktu dan jarak pun tidak menjadi hambatan, dunia seakan dilipat. Kita bisa merasa sangat dekat, merasa seperti saudara kandung, mencintai bahkan merindukan manusia manusia yang entah ketika mengetik di dunia maya bisa jadi tidak mewakili kondisi sebenarnya, dilakukan sepintas lalu, tidak serius, bahkan bisa jadi sambil ngupil :D.
Itulah teknologi, seperti dua sisi pedang..yang bisa mengasah dan meraut sebuah pensil menjadi tajam atau malah 'memacung' kepala kita sebagai user. Beberapa kali saya membuktikan 'citra' sesuatu dapat dibentuk dengan mudah melalui media internet, tinggal hujanilah para follower dengan membuka diri kita seluas luasnya dan konsistenlah dengan citra itu dan tadaaa...kita akan dikenal dengan labelling tertentu. Marketing saya pikir sangat berhubungan dengan hal ini, ketika kita mencitrakan diri sebagai bagian dari sebuah komunitas, perusahaan, organisasi tertentu maka label kita akan menjadi citra lembaga apalagi ketika kita dalam posisi menjadi pimpinan.
Namun di sisi lain banyak jebakan dalam dunia online , berkali kali saya terjebak dalam pembicaraan berkepanjangan, berbelit belit hanya membahas hal yang sebetulnya tidak urgent dalam sebuah grup online atau komentar status di facebook dan pada akhirnya yang tersisa energi yang habis, exhausted dan kadang diakhiri dengan 'framing' dan 'stereotyping' pada satu dua orang yang melekat. sangat disayangkan ketika seseorang merusak citra diri dengan 'gaya menulis' yang tidak tepat - bisa jadi berbeda dengan dirinya yang sebenarnya - diperparah dengan tidak menempatkan rasa bahasa pada tulisan akhirnya menjadikan citra dirinya meluncur tajam.Untuk manusia dewasa selaiknya menggunakan social media dengan bijak karena para pengguna media online yang sifatnya sangat pribadi masih membutuhkan manusia yang mencerminkan diri sendiri, mempunyai 'online manner', dan memakai gradasi komunikasi yang tepat.
Saya sendiri sedang berusaha sangat amat keras untuk menghentikan diri saya menekan tombol narcistic dalam diri dengan mengurangi 'pengumuman pada seluruh dunia' tentang hal hal yang pribadi dan mulai mengalihkan social media sebagai ajang branding ecoethno dan beberapa hal yang sifatnya organisasi yang dilekatkan pada figur pribadi. Belum lagi energi saya habis untuk setengah mati menahan agar tidak bersikap 'sinis' dan 'menyerang' pada orang lain secara online karena ketidaksabaran dalam menghadapi orang orang yang tidak mempunyai orisinalitas (misalnya meniru gaya online branding orang lain dalam segala hal) berfikir lambat, sulit menangkap makna, terlalu banyak komentar dan wall yang penuh dengan keluhan..(ini saya lagi mengeluh juga yak :D). ..
so thats it..
sometimes we never know which one is the best part or worse...
maybe i am the part of the worse...sigh
Itulah dunia maya, ketika beberapa tahun belakangan betapa semua manusia menjadi dekat satu sama lain, waktu dan jarak pun tidak menjadi hambatan, dunia seakan dilipat. Kita bisa merasa sangat dekat, merasa seperti saudara kandung, mencintai bahkan merindukan manusia manusia yang entah ketika mengetik di dunia maya bisa jadi tidak mewakili kondisi sebenarnya, dilakukan sepintas lalu, tidak serius, bahkan bisa jadi sambil ngupil :D.
Itulah teknologi, seperti dua sisi pedang..yang bisa mengasah dan meraut sebuah pensil menjadi tajam atau malah 'memacung' kepala kita sebagai user. Beberapa kali saya membuktikan 'citra' sesuatu dapat dibentuk dengan mudah melalui media internet, tinggal hujanilah para follower dengan membuka diri kita seluas luasnya dan konsistenlah dengan citra itu dan tadaaa...kita akan dikenal dengan labelling tertentu. Marketing saya pikir sangat berhubungan dengan hal ini, ketika kita mencitrakan diri sebagai bagian dari sebuah komunitas, perusahaan, organisasi tertentu maka label kita akan menjadi citra lembaga apalagi ketika kita dalam posisi menjadi pimpinan.
Namun di sisi lain banyak jebakan dalam dunia online , berkali kali saya terjebak dalam pembicaraan berkepanjangan, berbelit belit hanya membahas hal yang sebetulnya tidak urgent dalam sebuah grup online atau komentar status di facebook dan pada akhirnya yang tersisa energi yang habis, exhausted dan kadang diakhiri dengan 'framing' dan 'stereotyping' pada satu dua orang yang melekat. sangat disayangkan ketika seseorang merusak citra diri dengan 'gaya menulis' yang tidak tepat - bisa jadi berbeda dengan dirinya yang sebenarnya - diperparah dengan tidak menempatkan rasa bahasa pada tulisan akhirnya menjadikan citra dirinya meluncur tajam.Untuk manusia dewasa selaiknya menggunakan social media dengan bijak karena para pengguna media online yang sifatnya sangat pribadi masih membutuhkan manusia yang mencerminkan diri sendiri, mempunyai 'online manner', dan memakai gradasi komunikasi yang tepat.
Saya sendiri sedang berusaha sangat amat keras untuk menghentikan diri saya menekan tombol narcistic dalam diri dengan mengurangi 'pengumuman pada seluruh dunia' tentang hal hal yang pribadi dan mulai mengalihkan social media sebagai ajang branding ecoethno dan beberapa hal yang sifatnya organisasi yang dilekatkan pada figur pribadi. Belum lagi energi saya habis untuk setengah mati menahan agar tidak bersikap 'sinis' dan 'menyerang' pada orang lain secara online karena ketidaksabaran dalam menghadapi orang orang yang tidak mempunyai orisinalitas (misalnya meniru gaya online branding orang lain dalam segala hal) berfikir lambat, sulit menangkap makna, terlalu banyak komentar dan wall yang penuh dengan keluhan..(ini saya lagi mengeluh juga yak :D). ..
so thats it..
sometimes we never know which one is the best part or worse...
maybe i am the part of the worse...sigh
Monday, November 18, 2013
Wanita..engkau tidak sendiri...
Berbicara soal wanita memang tidak ada habisnya. Mahluk unik dari 'planet'yang berbeda dengan pria, men are from mars, women are from venus. Sehingga 'bahasa' yang digunakan pun berbeda,wanita penuh dengan detail, kata kata, dan bicara untuk melepas ketegangan..sementara pria kembali ke 'gua' nya, berdiam diri, berfikir ketika mencari solusi..
Tidak ada yang salah dengan keduanya..
Namun wanita terbukti pintar memainkan perannya,mereka bisa berperan menjadi seorang ibu yang lemah lembut, seorang partner yang mengatur semua detil detil bak organizer handal di keluarga, seorang kekasih yang selalu siap menjadi tempat berlabuh suaminya dan seorang pengurus keluarga yang menyimpan lelah, airmata dan kekesalan hanya di dalam hati dan cukup dengan berbincang dengan sesama wanita semua rasa negatif akan hilang berganti dengan keceriaan ketika bersama keluarga..
Dan saya melihat kekuatan wanita pada seorang wanita berhati baik seluas samudera dan kesabaran sedalam lautan..
Dia melalui sekian belas tahun hari harinya untuk menjadi pendamping suaminya ketika melalui jalanan panjang hampir 200 km memakai sepeda motor di jalan berbatu yang rusak hanya untuk membeli buku buku pelajaran untuk murid murid di smp gratis mereka di sebuah desa terpencil nun di ujung selatan kabupaten garut.
Sangat wajar untuk semua manusia mendambakan kehidupan dunia yang mapan, nyaman, dan serba berkecukupan. Namun panggilan jiwa membawa wanita ini pada kehidupan lain yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bahwa ia harus membantu suami membuat makan pagi untuk sekian puluh murid di sekolah gratisnya agar anak anak di desa itu mau bersekolah dan mungkin dia menyembunyikan rasa lelah dan pilu melihat kondisi sekitarnya di balik doa doa . Kekuatan dahsyat lah yang akhirnya membawa wanita ini pada kondisi memilih, ketika anak anak mereka harus terpisahkan di usia dini karena harus melanjutkan ke jenjang sekolah yg lebih tinggi yang hanya bisa di dapatkan di perkotaan sementara ia pun terbentur pada puluhan murid murid yang harus ia ajar setiap hari di sana, karena guru yang ada hanya ia, suaminya dan satu orang penduduk asli desa tsb.
Berbagai cobaan dalam hidup, suka duka wanita ini hanya satu dari 10 penulis yang bergabung dalam buku ' Takkan pernah menyerah'. Buku kecil yang ditulis oleh wanita wanita biasa biasa saja dengan pengalaman hidup masing masing ini adalah sebagian kecil cerita tentang bagaimana para wanita dengan kekuatan diri, ketabahan dan saling berpegang tangan dengan wanita lain menjadi kekuatan dalam menghadapi kehidupan yang tidak mudah. Semoga inspirasi dalam buku ini dapat memberi kekuatan pada wanita lain di seluruh belahan penjuru dunia bahwa Engkau tidak sendiri...
*buku yang disusun oleh komunitas AAB ini akan diluncurkan dalam talkshow gratis memperingati hari ibu : 'tak kan menyerah'
Supported by : Mizan,BCCF,Pas itb
21 desember 2013,gsg salman itb jam 13-16
Rsvp by twitter : @AABcommunity
08121405647
Tidak ada yang salah dengan keduanya..
Namun wanita terbukti pintar memainkan perannya,mereka bisa berperan menjadi seorang ibu yang lemah lembut, seorang partner yang mengatur semua detil detil bak organizer handal di keluarga, seorang kekasih yang selalu siap menjadi tempat berlabuh suaminya dan seorang pengurus keluarga yang menyimpan lelah, airmata dan kekesalan hanya di dalam hati dan cukup dengan berbincang dengan sesama wanita semua rasa negatif akan hilang berganti dengan keceriaan ketika bersama keluarga..
Dan saya melihat kekuatan wanita pada seorang wanita berhati baik seluas samudera dan kesabaran sedalam lautan..
Dia melalui sekian belas tahun hari harinya untuk menjadi pendamping suaminya ketika melalui jalanan panjang hampir 200 km memakai sepeda motor di jalan berbatu yang rusak hanya untuk membeli buku buku pelajaran untuk murid murid di smp gratis mereka di sebuah desa terpencil nun di ujung selatan kabupaten garut.
Sangat wajar untuk semua manusia mendambakan kehidupan dunia yang mapan, nyaman, dan serba berkecukupan. Namun panggilan jiwa membawa wanita ini pada kehidupan lain yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bahwa ia harus membantu suami membuat makan pagi untuk sekian puluh murid di sekolah gratisnya agar anak anak di desa itu mau bersekolah dan mungkin dia menyembunyikan rasa lelah dan pilu melihat kondisi sekitarnya di balik doa doa . Kekuatan dahsyat lah yang akhirnya membawa wanita ini pada kondisi memilih, ketika anak anak mereka harus terpisahkan di usia dini karena harus melanjutkan ke jenjang sekolah yg lebih tinggi yang hanya bisa di dapatkan di perkotaan sementara ia pun terbentur pada puluhan murid murid yang harus ia ajar setiap hari di sana, karena guru yang ada hanya ia, suaminya dan satu orang penduduk asli desa tsb.
Berbagai cobaan dalam hidup, suka duka wanita ini hanya satu dari 10 penulis yang bergabung dalam buku ' Takkan pernah menyerah'. Buku kecil yang ditulis oleh wanita wanita biasa biasa saja dengan pengalaman hidup masing masing ini adalah sebagian kecil cerita tentang bagaimana para wanita dengan kekuatan diri, ketabahan dan saling berpegang tangan dengan wanita lain menjadi kekuatan dalam menghadapi kehidupan yang tidak mudah. Semoga inspirasi dalam buku ini dapat memberi kekuatan pada wanita lain di seluruh belahan penjuru dunia bahwa Engkau tidak sendiri...
*buku yang disusun oleh komunitas AAB ini akan diluncurkan dalam talkshow gratis memperingati hari ibu : 'tak kan menyerah'
Supported by : Mizan,BCCF,Pas itb
21 desember 2013,gsg salman itb jam 13-16
Rsvp by twitter : @AABcommunity
08121405647
Sunday, October 27, 2013
Dunia yang serba resah gelisah
Saya menulis ini beberapa hari setelah bertemu seorang teman lama.
Banyak orang mungkin termasuk saya selalu dipenuhi 'keresahan' atas apapun. Kalau tidak resah dalam hubungan manusia ya resah melihat kondisi sekitar. No wonder kalau saya buka kerudung pasti banyak yang terheran heran melihat uban di kepala wanita berparas anak mahasiswa tingkat 1 (hayaaaahhhh...mahasiswa s3 kali) .
Dan manusia selalu mencari jalan untuk melepaskan rasa resah, dengan cara masing masing pastinya, ada yang selalu membutuhkan teman untuk mendengarkan dia di jam makan siang, ada yang 'berisik'di socmed dengan status dan tulisan, ada yang tidak henti 'bicara' di grup grup bbm, whatsapp atau mailing list, dan ada yang menulis dalam blog. Tapi itu wajar, karena manusia itu mahluk sosial kan? Dia butuh manusia lain..
Bagi saya 'yang entah kenapa selalu menjadi tong sampah dari keluh kesah teman teman dekat' Saya melihat banyak hal yang kita takut dan resahkan karena sebetulnya bersumber dari ketakutan dan bayangan yang diciptakan kita lho..
Contoh, untuk resign dari sebuah perusahaan yang membuat kita nyaman selama ini dengan gaji tetap kemudian beranjak menjadi wirausahawan itu butuh kekuatan maha dahsyat terutama bagi laki laki sebagai kepala keluarga. Pastinya bayangan akan anak istri yang telantar karena penghasilan yang berubah menjadi tidak tetap begitu menghantui. Atau bagi wanita yang tidak bekerja, ibu rumah tangga, merasa tidak punya kapabilitas dan eksistensi, maka kehiilangan suami dalam bentuk apapun menjadi monster menakutkan sehingga ketika ada kondisi tertentu yang berarah pada 'kehilangan suami' resah dan panik menghantui..
Mari kita berfikir ulang, apakah ada di muka bumi ini yang tidak mendapatkan rejeki kalau dia berusaha? Meskipun usahanya adalah memasak nasi kuning di pagi hari dan menjualnya di halaman rumah.mungkin yang membuat resah adalah bagaimana hawa nafsu kita telah memenjarakan kita dalam simbol simbol status. Status istri berkecukupan yang bisa beli ini itu dengan bebas, bergaul ala sosialita yg berkutat di arisan,make up dan model baju terbaru, atau status suami yang bisa membawa anak istri liburan setiap 6 bulan,membanggakan sederet aset atau memanjakan anak anak dgn gadget terbaru..
Tapi sebenarnya apa sih cukup itu ?
Mungkin supaya hidup tenang , bahagia dan tidak panik meskipun jumlah uang di tabungan menipis atau bahkan tidak punya tabungan..kita musti me redefinisi kan kembali kata 'cukup' . Karena ketika kita tidak merasa cukup, disanalah sumber semua resah.
Suami yang tidak cukup baik untuk istri, istri yang tidak cukup berbakti bagi suami, rumah yang masih tidak cukup lapang untuk keluarga,sekolah yang tidak cukup baik untuk anak anak..semua dirasa selalu tidak cukup
Saya selalu percaya otak bisa di setting, menghadapi apapun dan merasa cukup itu adalah masalah setting. Dan jangan pernah melihat pada orang lain karena rumput tetangga selalu lebih hijau dari rumput di rumah kita.
Dan saya selalu mengingat ingat sebuah kalimat yang saya sendiri lupa dikutip dari mana -kalau tidak salah dari rumi-
Die before death..
Matilah sebelum mati..
Pandanglah dunia seadanya dan secukupnya...
Banyak orang mungkin termasuk saya selalu dipenuhi 'keresahan' atas apapun. Kalau tidak resah dalam hubungan manusia ya resah melihat kondisi sekitar. No wonder kalau saya buka kerudung pasti banyak yang terheran heran melihat uban di kepala wanita berparas anak mahasiswa tingkat 1 (hayaaaahhhh...mahasiswa s3 kali) .
Dan manusia selalu mencari jalan untuk melepaskan rasa resah, dengan cara masing masing pastinya, ada yang selalu membutuhkan teman untuk mendengarkan dia di jam makan siang, ada yang 'berisik'di socmed dengan status dan tulisan, ada yang tidak henti 'bicara' di grup grup bbm, whatsapp atau mailing list, dan ada yang menulis dalam blog. Tapi itu wajar, karena manusia itu mahluk sosial kan? Dia butuh manusia lain..
Bagi saya 'yang entah kenapa selalu menjadi tong sampah dari keluh kesah teman teman dekat' Saya melihat banyak hal yang kita takut dan resahkan karena sebetulnya bersumber dari ketakutan dan bayangan yang diciptakan kita lho..
Contoh, untuk resign dari sebuah perusahaan yang membuat kita nyaman selama ini dengan gaji tetap kemudian beranjak menjadi wirausahawan itu butuh kekuatan maha dahsyat terutama bagi laki laki sebagai kepala keluarga. Pastinya bayangan akan anak istri yang telantar karena penghasilan yang berubah menjadi tidak tetap begitu menghantui. Atau bagi wanita yang tidak bekerja, ibu rumah tangga, merasa tidak punya kapabilitas dan eksistensi, maka kehiilangan suami dalam bentuk apapun menjadi monster menakutkan sehingga ketika ada kondisi tertentu yang berarah pada 'kehilangan suami' resah dan panik menghantui..
Mari kita berfikir ulang, apakah ada di muka bumi ini yang tidak mendapatkan rejeki kalau dia berusaha? Meskipun usahanya adalah memasak nasi kuning di pagi hari dan menjualnya di halaman rumah.mungkin yang membuat resah adalah bagaimana hawa nafsu kita telah memenjarakan kita dalam simbol simbol status. Status istri berkecukupan yang bisa beli ini itu dengan bebas, bergaul ala sosialita yg berkutat di arisan,make up dan model baju terbaru, atau status suami yang bisa membawa anak istri liburan setiap 6 bulan,membanggakan sederet aset atau memanjakan anak anak dgn gadget terbaru..
Tapi sebenarnya apa sih cukup itu ?
Mungkin supaya hidup tenang , bahagia dan tidak panik meskipun jumlah uang di tabungan menipis atau bahkan tidak punya tabungan..kita musti me redefinisi kan kembali kata 'cukup' . Karena ketika kita tidak merasa cukup, disanalah sumber semua resah.
Suami yang tidak cukup baik untuk istri, istri yang tidak cukup berbakti bagi suami, rumah yang masih tidak cukup lapang untuk keluarga,sekolah yang tidak cukup baik untuk anak anak..semua dirasa selalu tidak cukup
Saya selalu percaya otak bisa di setting, menghadapi apapun dan merasa cukup itu adalah masalah setting. Dan jangan pernah melihat pada orang lain karena rumput tetangga selalu lebih hijau dari rumput di rumah kita.
Dan saya selalu mengingat ingat sebuah kalimat yang saya sendiri lupa dikutip dari mana -kalau tidak salah dari rumi-
Die before death..
Matilah sebelum mati..
Pandanglah dunia seadanya dan secukupnya...
Friday, October 18, 2013
Dan berhentilah memaki...
Daripada mengutuk kegelapan
Lebih baik nyalakan lilin
Dua kalimat dari anies baswedan itu ternyata kekuatannya hebat, bisa menggiring 400 manusia muda dari berbagai latar belakang pendidikan yang baru lulus kuliah untuk membaktikan diri menjadi pengajar muda di pelosok negeri selama setahun.
Bukan itu yang akan saya bahas kali ini. potensi intelektualitas dan keterbukaan arus komunikasi dan informasi saat ini menjadikan manusia lebih mudah menangkap berbagai macam fenomena sekaligus mengkritisinya. Media informasi dengan keran kebebasan seluas luasnya membuat kita mudah mencurahkan segala kritik, protes, masukan melalui social media. Bahkan salah seorang teman saya pernah berkomentar bahwa 'tembok ratapan' itu sudah berpindah dari yerusalem nun jauh disana ke wall di dinding fb kita atau kicauan twitter.
Di Satu sisi ini hal yang menggembirakan, bagaimana jarak, waktu dan ruang menjadi tiada arti. Di sisi lain, kecenderungan untuk banyak bicara menjadikan kita merasa bahwa dengan bicara, menulis, mengeluh, maki maki sudah menuntaskan kewajiban kita sebagai warga negara yg baik misalnya. Pastinya bakal banyak kalimat sejenis dengan 'saya sudah bayar pajak, pemerintah dong harua kerja keras'
Tidakkah terpikir bahwa negara atau kota deh yg scope nya lebih kecil akan memenuhi harapan kita menjadi tempat yang nyaman untuk dihuni kalau kita , bagian terbesar dari sebuah kota hanya bisa memaki, bersorak dari jauh tanpa pernah mau menggerakan diri, menggerakkan keluarga atau masyarakat sekitar untuk paling tidak melakukan sesuatu yg sederhana.
Saya sangat percaya bahwa pergerakan dengan adanya engagement (keterikatan sukarela) akan membawa energi besar pada perobahan dibandingkan setting program yang sifatnya top down. Banyak gerakan yang membawa pada keberhasilan melalui proses melibatkan semua orang bahwa banyak masalah di kehidupan kita itu bukan masalah pemerintah atau negara saja, tetapi itu menjadi masalah kita. Contoh, ketika banjir sudah melanda satu sektor diperkotaan karena letak daerah itu di bawah jalan raya sehingga ketika hujan air tumpah ruah ke perkampungan, maka masyarakat tidak lah sulit untuk diarahkan membersihkan selokan atau mengakomodir gaya hidup 'zero waste' . Dan itu adalah energi positif seperti halnya gerakan indonesia berkebun, gerakan indonesia mengajar dll. Itu karena masyaraka sudah mulai merasa bahwa masalah bukanlah semata berada di pemerintah sana, tetapi disini di dekat kita.
Sisi lain, ketika kita memaki, mengkritisi dengan energi negatif , maka yang terjadi adalah kacamata kita akan selalu berada dalam lensa negatif, hati kita akan selalu memandang dengan nyinyir mencari cari salah siapa dan bukan solusi kecil apa yang harus saya lakukan untuk membantu. Dan saya angkat topi tinggi tinggi untuk banyak relawan pekerja sosial di kota ini yang tidak perlu terlalu banyak mengutuk kegelapan, tetapi berusaha menyalakan lilin meskipun lilin itu kecil dan redup.tapi bukankah apabila ada ribuan lilin yang dinyalakan yang ada adalah terang di sekeliling kita ?
#curcol setelah seharian berjalan d sebuah kelurahan di kota bandung dan bertemu seseorang yang menginspirasi
Lebih baik nyalakan lilin
Dua kalimat dari anies baswedan itu ternyata kekuatannya hebat, bisa menggiring 400 manusia muda dari berbagai latar belakang pendidikan yang baru lulus kuliah untuk membaktikan diri menjadi pengajar muda di pelosok negeri selama setahun.
Bukan itu yang akan saya bahas kali ini. potensi intelektualitas dan keterbukaan arus komunikasi dan informasi saat ini menjadikan manusia lebih mudah menangkap berbagai macam fenomena sekaligus mengkritisinya. Media informasi dengan keran kebebasan seluas luasnya membuat kita mudah mencurahkan segala kritik, protes, masukan melalui social media. Bahkan salah seorang teman saya pernah berkomentar bahwa 'tembok ratapan' itu sudah berpindah dari yerusalem nun jauh disana ke wall di dinding fb kita atau kicauan twitter.
Di Satu sisi ini hal yang menggembirakan, bagaimana jarak, waktu dan ruang menjadi tiada arti. Di sisi lain, kecenderungan untuk banyak bicara menjadikan kita merasa bahwa dengan bicara, menulis, mengeluh, maki maki sudah menuntaskan kewajiban kita sebagai warga negara yg baik misalnya. Pastinya bakal banyak kalimat sejenis dengan 'saya sudah bayar pajak, pemerintah dong harua kerja keras'
Tidakkah terpikir bahwa negara atau kota deh yg scope nya lebih kecil akan memenuhi harapan kita menjadi tempat yang nyaman untuk dihuni kalau kita , bagian terbesar dari sebuah kota hanya bisa memaki, bersorak dari jauh tanpa pernah mau menggerakan diri, menggerakkan keluarga atau masyarakat sekitar untuk paling tidak melakukan sesuatu yg sederhana.
Saya sangat percaya bahwa pergerakan dengan adanya engagement (keterikatan sukarela) akan membawa energi besar pada perobahan dibandingkan setting program yang sifatnya top down. Banyak gerakan yang membawa pada keberhasilan melalui proses melibatkan semua orang bahwa banyak masalah di kehidupan kita itu bukan masalah pemerintah atau negara saja, tetapi itu menjadi masalah kita. Contoh, ketika banjir sudah melanda satu sektor diperkotaan karena letak daerah itu di bawah jalan raya sehingga ketika hujan air tumpah ruah ke perkampungan, maka masyarakat tidak lah sulit untuk diarahkan membersihkan selokan atau mengakomodir gaya hidup 'zero waste' . Dan itu adalah energi positif seperti halnya gerakan indonesia berkebun, gerakan indonesia mengajar dll. Itu karena masyaraka sudah mulai merasa bahwa masalah bukanlah semata berada di pemerintah sana, tetapi disini di dekat kita.
Sisi lain, ketika kita memaki, mengkritisi dengan energi negatif , maka yang terjadi adalah kacamata kita akan selalu berada dalam lensa negatif, hati kita akan selalu memandang dengan nyinyir mencari cari salah siapa dan bukan solusi kecil apa yang harus saya lakukan untuk membantu. Dan saya angkat topi tinggi tinggi untuk banyak relawan pekerja sosial di kota ini yang tidak perlu terlalu banyak mengutuk kegelapan, tetapi berusaha menyalakan lilin meskipun lilin itu kecil dan redup.tapi bukankah apabila ada ribuan lilin yang dinyalakan yang ada adalah terang di sekeliling kita ?
#curcol setelah seharian berjalan d sebuah kelurahan di kota bandung dan bertemu seseorang yang menginspirasi
Saturday, October 12, 2013
Berhenti dan bersandarlah
Pernah terpikir tidak bahwa kita ini selalu merasa bahwa pikiran kita ini membawa kita pada kebenaran sejati. Karena kita merasa bahwa kita ini paling baik, paling pintar dan paling kritis...
Sehingga kadang merasa bisa memverifikasi apapun, bisa membuktikan bahwa kita tidak butuh apapun kecuali egoisme diri merasa paling hebat. Dan pada akhirnya keresahan tidak akan berhenti menemukan sandaran
Time flies..my dear friend
saatnya kita berlabuh, di pantai manapun , menikmati matahari, menikmati ombak dan yang terpenting menjadi diri yang lebih santun, merendah dan berserah diri pada Tuhan..
karena kita tidak pernah tahu kesombongan fikiran kita akan membawa kita kemana..
Minds are beautiful..but still we should have a heart..
Ketika pikiran membawa pada menilai orang lain, menghina dan mencerca, maka dimana yg namanya nurani..sepertinya hati tidak pernah membawa kita untuk menganggap orang lain selalu buruk. Karena hati itu jujur, kalau kita selalu 'mendengar'
Hedeuh ini saya meracau..
Sehingga kadang merasa bisa memverifikasi apapun, bisa membuktikan bahwa kita tidak butuh apapun kecuali egoisme diri merasa paling hebat. Dan pada akhirnya keresahan tidak akan berhenti menemukan sandaran
Time flies..my dear friend
saatnya kita berlabuh, di pantai manapun , menikmati matahari, menikmati ombak dan yang terpenting menjadi diri yang lebih santun, merendah dan berserah diri pada Tuhan..
karena kita tidak pernah tahu kesombongan fikiran kita akan membawa kita kemana..
Minds are beautiful..but still we should have a heart..
Ketika pikiran membawa pada menilai orang lain, menghina dan mencerca, maka dimana yg namanya nurani..sepertinya hati tidak pernah membawa kita untuk menganggap orang lain selalu buruk. Karena hati itu jujur, kalau kita selalu 'mendengar'
Hedeuh ini saya meracau..
Thursday, October 10, 2013
The city we have...
What we can do for our city?
Just stop talking and do something..
Banyak hal sebetulnya yang bisa kita lakukan untuk membuat bandung minimal menjadi kota yang layak huni. Aspek humanis sebuah kota yang nyaris hilang sudah saatnya dikembalikan. Romantisme bandung puluhan tahun yl waktu saya sekolah dasar *meskipun sekolah saya itu di perkampungan urban* menyeruak kembali ketika saya mengikuti perhelatan besar, salah satu penanda sejarah di acara workshop 'design thinking'. Ini bukan hanya workshop biasa, karena selain dihadiri banyak pemerhati kota, desainer, arsitek juga dihadiri oleh aparat pemerintah di kota Bandung.
Selama 3 hari (1-3 okt 2013) kita bercampur baur seluruh peserta dalam kelompok kelompok yang terdiri atas campuran berbagai profesi. Menyenangkan karena kita betul betul merasakan bagaimana kota in dengan masalah masalah 'pergerakan manusia' , transportasi kota, kemacetan dll. Dan saya berada dlm kelompok yang terdiri atas seorang camat, bidang pariwisata , pengembang industri IT, arsitek, dosen dll.
Kita memulai dengan berjalan menapaki jalan cihampelas yang wuihhhh...*ngelap dahi. Mungkin sudah 15 tahun lebih saya tidak berjalan menyusuri cihampelas karena terus terang sama sekali tidak tertarik(setiap lewat paling juga masuk ke ciwalk dan kemudian parkir di dlmnya). Dan ternyata.. Cihampelas itu nyaris tidak punya trotoar..
Berjalan sepanjang kurang lebih 2 km saja mungkin tidak terhitung berapa kali hampir disambar motor, di klakson mobil dan perjuangan gila gilaan untuk menyebrang jalan. Betul betul saya baru merasakan bagaimana 'prilaku manusia urban' karena tema kelompok saya mengamati 'urban ethic' dan mencari solusi melalui pengamatan ini.
Saya melihat prilaku penduduk bandung masih kental, manusia berkerumun , leyeh leyeh di bawah pohon pohon besar sepanjang jalan sambil ngobrol, ngopi, merokok, main catur...tapi laiknya sebuah kota prilaku negatif pun terpapar disini. Terburu buru, parkir dimana pun, bahkan membeli barang di kaki lima pun enggan turun dari kendaraan- walhasil menimbulkan macet panjang. Dan ini yang menjadi perhatian kelompok kita, setelah mengamati prilaku yang 'tidak malu' seperti naik ke trotoar, parkir di trotoar, menyingkirkan pejalan kaki dari trotoar maka kelompok kita memilih 'trotoart' sebagai tema utama.
Hari ke 2 dan 3 workshop dilalui dengan ketawaan, perdebatan sengit, membuat model/prototype, role playing tentang prilaku urban dan diakhiri dengan presentasi di depan seluruh peserta.saya tidak ingin membahas hasil hasil workshop karena semuanya keren keren (termasuk hasil kelompok saya hahaha) yang saya sangat tandai adalah workshop dengan 200 peserta yang berkolaborasi dari berbagai bidang dan 'berempati' terhadap kota yang sakit ini menyisakan hal hal yang baik.
Banyak kelompok yang akhirnya membuat grup di whatsapp untuk ngobrol tentang kota, dilanjut dengan berusaha mewujudkan ide ide asik di beberapa bagian kota. Dan kelompok saya mulai melakukan aksi dengan memulai di jalan braga (karena di kelompok kita ada pak camat sumur bandung yang tidak sabar ingin membuat perobahan) , menerapkan design thinking dalam revitalisasi braga. Bahkan saya mulai memikirkan bahwa program ini asik juga kalau dilakukan oleh anak anak di ecoethno.
Saya yakin ada 200 orang yang mulai menumbuhkan pohon kesadaran dalam dirinya, paling tidak saya mulai sadar bahwa saya ini bagian dari masalah kota dgn ngomel ngomel macet dari balik setir mobil ber cc besar :D. Dan sepertinya saya mulai harus mencoba at least sehari dalam seminggu memakai angkot ke tempat beraktifitas. And its feel good...
Just stop talking and do something..
Banyak hal sebetulnya yang bisa kita lakukan untuk membuat bandung minimal menjadi kota yang layak huni. Aspek humanis sebuah kota yang nyaris hilang sudah saatnya dikembalikan. Romantisme bandung puluhan tahun yl waktu saya sekolah dasar *meskipun sekolah saya itu di perkampungan urban* menyeruak kembali ketika saya mengikuti perhelatan besar, salah satu penanda sejarah di acara workshop 'design thinking'. Ini bukan hanya workshop biasa, karena selain dihadiri banyak pemerhati kota, desainer, arsitek juga dihadiri oleh aparat pemerintah di kota Bandung.
Selama 3 hari (1-3 okt 2013) kita bercampur baur seluruh peserta dalam kelompok kelompok yang terdiri atas campuran berbagai profesi. Menyenangkan karena kita betul betul merasakan bagaimana kota in dengan masalah masalah 'pergerakan manusia' , transportasi kota, kemacetan dll. Dan saya berada dlm kelompok yang terdiri atas seorang camat, bidang pariwisata , pengembang industri IT, arsitek, dosen dll.
Kita memulai dengan berjalan menapaki jalan cihampelas yang wuihhhh...*ngelap dahi. Mungkin sudah 15 tahun lebih saya tidak berjalan menyusuri cihampelas karena terus terang sama sekali tidak tertarik(setiap lewat paling juga masuk ke ciwalk dan kemudian parkir di dlmnya). Dan ternyata.. Cihampelas itu nyaris tidak punya trotoar..
Berjalan sepanjang kurang lebih 2 km saja mungkin tidak terhitung berapa kali hampir disambar motor, di klakson mobil dan perjuangan gila gilaan untuk menyebrang jalan. Betul betul saya baru merasakan bagaimana 'prilaku manusia urban' karena tema kelompok saya mengamati 'urban ethic' dan mencari solusi melalui pengamatan ini.
Saya melihat prilaku penduduk bandung masih kental, manusia berkerumun , leyeh leyeh di bawah pohon pohon besar sepanjang jalan sambil ngobrol, ngopi, merokok, main catur...tapi laiknya sebuah kota prilaku negatif pun terpapar disini. Terburu buru, parkir dimana pun, bahkan membeli barang di kaki lima pun enggan turun dari kendaraan- walhasil menimbulkan macet panjang. Dan ini yang menjadi perhatian kelompok kita, setelah mengamati prilaku yang 'tidak malu' seperti naik ke trotoar, parkir di trotoar, menyingkirkan pejalan kaki dari trotoar maka kelompok kita memilih 'trotoart' sebagai tema utama.
Hari ke 2 dan 3 workshop dilalui dengan ketawaan, perdebatan sengit, membuat model/prototype, role playing tentang prilaku urban dan diakhiri dengan presentasi di depan seluruh peserta.saya tidak ingin membahas hasil hasil workshop karena semuanya keren keren (termasuk hasil kelompok saya hahaha) yang saya sangat tandai adalah workshop dengan 200 peserta yang berkolaborasi dari berbagai bidang dan 'berempati' terhadap kota yang sakit ini menyisakan hal hal yang baik.
Banyak kelompok yang akhirnya membuat grup di whatsapp untuk ngobrol tentang kota, dilanjut dengan berusaha mewujudkan ide ide asik di beberapa bagian kota. Dan kelompok saya mulai melakukan aksi dengan memulai di jalan braga (karena di kelompok kita ada pak camat sumur bandung yang tidak sabar ingin membuat perobahan) , menerapkan design thinking dalam revitalisasi braga. Bahkan saya mulai memikirkan bahwa program ini asik juga kalau dilakukan oleh anak anak di ecoethno.
Saya yakin ada 200 orang yang mulai menumbuhkan pohon kesadaran dalam dirinya, paling tidak saya mulai sadar bahwa saya ini bagian dari masalah kota dgn ngomel ngomel macet dari balik setir mobil ber cc besar :D. Dan sepertinya saya mulai harus mencoba at least sehari dalam seminggu memakai angkot ke tempat beraktifitas. And its feel good...
Friday, August 30, 2013
14 th and more...
Saya menemukan quotes paling tulus tentang cinta dari anak seorang sahabat
I can not love you more,mom
Because you can not add more to infinity...
Mari kita bicara tentang cinta dan bersama..
Mengenal seseorang selama 20 tahun itu mungkin hampir seperti mengenal diri sendiri.
Dan saya sudah bersama ica selama itu (no offense, ica itu nama panggilan ihsan dari saya dan anak2 yg tidak pula membuat kehilangan rasa hormat dan segan pada seorang ayah).
Kita berawal dari pertemanan jangka panjang yang penuh perdebatan sengit dan perkelahian verbal dalam mempersatukan pola fikir dalam kehidupan organisasi tanpa bentuk bernama 'mabupala' yg memberi insight sangat besar pada ecoethno saat ini. Herannya, saya dan dia selalu berbeda mengenai apapun.Dan ini yg selalu dikhawatirkan ibu mertua saya, bahwa kami akan selalu bertengkar setelah menikah melihat perdebatan dalam rapat rapat , telepon yg dibanting setelah diskusi sengit di telepon. Dan ternyata itu salah besar, kita tidak pernah bertengkar hebat setelah menikah.
Tapi sungguh, sejak dahulu kita sangat kompak dalam bermain dan berpetualang karena kita mempunyai cara bermain yang sama..
Di masa pacaran (kalau kata anak mesjid masa 'taaruf' :D) yg anehnya tanpa kata kata 'menyatakan' ala anak muda lebay jaman dulu, kita sdh saling tahu bahwa 6 bulan sebelum menikah kita sudah shifting tidak hanya sekedar teman seperjalanan dan teman berpetualang melalui pandangan mata, perlindungan yang berbeda (sendal sy diselamatkan di sungai hihi...) dan sikap yang penuh kasih . Rasanya aneh juga, saya tidak dilamar dengan gaya jongkok membawa cincin dengan kata 'would you marry me' tapi dgn tiba tiba menanyakan jadwal kapan dia bisa datang melamar. He is full of surprise..
Dan terjadilah...
Mempersiapkan pernikahan dalam 90 hari.. Seru seruan pacaran gaya anak mesjid petualang yang kencannya adalah hunting foto 17 agustusan ke pelosok pakai motor pinjaman, nonton lomba arung jeram di sungai berdua saja, survey muara sungai nun jauh di tasik selatan sana.. Menjadikan kami merasa bahwa kami adalah bayangan jiwa, terpisah satu sama lain namun memiliki kesamaan.
Dua puluh tahun sudah terlewati, saya sudah tidak membutuhkan kata kata cinta dan puisi yang hanya kata (you can download it on google, rite ? :D) karena pasangan saya memberikan bukti bahwa saya adalah semuanya bagi dia . Dia akan menjawab sms saya yang paling tidak penting sekalipun ketika dia sibuk . Selalu meluangkan waktu ketika saya meminta trip untuk bersamanya dan anak2 (beda dgn perkawinan di 10 thn pertama yg sibuk bertengkar krn waktu yang sulit dipersatukan) . Dia tahu saya selalu butuh waktu dan kesempatan untuk diri . He always give a space and a time..
Dan saya selalu sayang padanya karena tidak ada keluhan mengenai masakan tidak enak, rumah berantakan, kopi terlalu manis atau kucing jalanan yang terus bertambah di rumah kami :D. He always understand...And we have the same way to handle everything...
Dan saya sdh cukup menikmati kebersamaan dengannya ketika menjelajah desa desa, berbincang sambil berdebar menyetir di jalanan yg buruk , mabuk mabukan kopi setiap malam bersama (kami menghabiskan 1 pitcher kopi hitam setiap malam ketika bersama) ..
Dan tentunya yang sangat saya hargai adalah penghargaan atas setiap jerih upaya saya, kepercayaan seribu persen, kebebasan menjadi diri sendiri dan menentukan banyak hal bersama...
Thanks a lot, love...
*celebrating 20 years of knowing each other and 14 years of marriage.
And we still 2 different person who know how to Apreciate each other..
I can not love you more,mom
Because you can not add more to infinity...
*Whoaaaa... Im sure fizhan will become romantic young gentlemen indeed..
Mari kita bicara tentang cinta dan bersama..
Mengenal seseorang selama 20 tahun itu mungkin hampir seperti mengenal diri sendiri.
Dan saya sudah bersama ica selama itu (no offense, ica itu nama panggilan ihsan dari saya dan anak2 yg tidak pula membuat kehilangan rasa hormat dan segan pada seorang ayah).
Kita berawal dari pertemanan jangka panjang yang penuh perdebatan sengit dan perkelahian verbal dalam mempersatukan pola fikir dalam kehidupan organisasi tanpa bentuk bernama 'mabupala' yg memberi insight sangat besar pada ecoethno saat ini. Herannya, saya dan dia selalu berbeda mengenai apapun.Dan ini yg selalu dikhawatirkan ibu mertua saya, bahwa kami akan selalu bertengkar setelah menikah melihat perdebatan dalam rapat rapat , telepon yg dibanting setelah diskusi sengit di telepon. Dan ternyata itu salah besar, kita tidak pernah bertengkar hebat setelah menikah.
Tapi sungguh, sejak dahulu kita sangat kompak dalam bermain dan berpetualang karena kita mempunyai cara bermain yang sama..
Di masa pacaran (kalau kata anak mesjid masa 'taaruf' :D) yg anehnya tanpa kata kata 'menyatakan' ala anak muda lebay jaman dulu, kita sdh saling tahu bahwa 6 bulan sebelum menikah kita sudah shifting tidak hanya sekedar teman seperjalanan dan teman berpetualang melalui pandangan mata, perlindungan yang berbeda (sendal sy diselamatkan di sungai hihi...) dan sikap yang penuh kasih . Rasanya aneh juga, saya tidak dilamar dengan gaya jongkok membawa cincin dengan kata 'would you marry me' tapi dgn tiba tiba menanyakan jadwal kapan dia bisa datang melamar. He is full of surprise..
Dan terjadilah...
Mempersiapkan pernikahan dalam 90 hari.. Seru seruan pacaran gaya anak mesjid petualang yang kencannya adalah hunting foto 17 agustusan ke pelosok pakai motor pinjaman, nonton lomba arung jeram di sungai berdua saja, survey muara sungai nun jauh di tasik selatan sana.. Menjadikan kami merasa bahwa kami adalah bayangan jiwa, terpisah satu sama lain namun memiliki kesamaan.
Dua puluh tahun sudah terlewati, saya sudah tidak membutuhkan kata kata cinta dan puisi yang hanya kata (you can download it on google, rite ? :D) karena pasangan saya memberikan bukti bahwa saya adalah semuanya bagi dia . Dia akan menjawab sms saya yang paling tidak penting sekalipun ketika dia sibuk . Selalu meluangkan waktu ketika saya meminta trip untuk bersamanya dan anak2 (beda dgn perkawinan di 10 thn pertama yg sibuk bertengkar krn waktu yang sulit dipersatukan) . Dia tahu saya selalu butuh waktu dan kesempatan untuk diri . He always give a space and a time..
Dan saya selalu sayang padanya karena tidak ada keluhan mengenai masakan tidak enak, rumah berantakan, kopi terlalu manis atau kucing jalanan yang terus bertambah di rumah kami :D. He always understand...And we have the same way to handle everything...
Dan saya sdh cukup menikmati kebersamaan dengannya ketika menjelajah desa desa, berbincang sambil berdebar menyetir di jalanan yg buruk , mabuk mabukan kopi setiap malam bersama (kami menghabiskan 1 pitcher kopi hitam setiap malam ketika bersama) ..
Dan tentunya yang sangat saya hargai adalah penghargaan atas setiap jerih upaya saya, kepercayaan seribu persen, kebebasan menjadi diri sendiri dan menentukan banyak hal bersama...
Thanks a lot, love...
*celebrating 20 years of knowing each other and 14 years of marriage.
And we still 2 different person who know how to Apreciate each other..
Tuesday, June 18, 2013
Just let me break my heart...
Enlightened happen when we let suffer entering and break our heart..
Seperti mimpi rasanya menyaksikan 'kebangkitan' kebaikan, welas asih dan cinta sesama menjadi pembicaraan utama dalam public lecture penulis terkenal Karen Armstrong. Itu seperti sebuah oase yang memberi secercah kesegaran di keringnya pembicaran pembicaraan lain,perdebatan tak kunjung henti antar umat beragama bahkan antar golongan golongan dalam agama itu sendiri. Atau pembicaraan mengenai benda ini itu, pencapaian ini itu yang mengeringkan hati dan mengikis kebersyukuran karena selalu mendongak ke atas.
Rasanya sudah sangat lama saya tidak mendengar pembicaraan dengan pokok utama mengesampingkan perbedaan dan mengedepankan persamaan , atau pembicaraan bagaimana membuat diri lebih berwelas asih pada yang berkekurangan atau menjadikan dunia menjadi tempat yang lebih nyaman bagi kita dan masa depan. Rasa rasanya manusia di jaman ini ketika informasi berseliweran dengan mudahnya di telapak tangan kita dan ketika kicauan siapapun bisa dengan bebas dan mudah diakses dari manapun dengan kecepatan dahsyat, telah merubah kita. Kita menjadi manusia manusia sakit yang selalu ingin disanjung , ingin dipuji dan dan senang membicarakan hal hal kebendaan, pencapaian ini itu yg bersifat fisical berjam jam , beratus hari dalam hidup. I hate that socmed for this..
Kita menjadi manusia manusia yang berusaha mengasah otak dan pendapat kita dengan mengedepankan egoisme pribadi ataupun golongan. Kita berusaha mematahkan pendapat orang lain, saling memakan satu sama lain dan menjadi mudah terlontar kata hinaan dan ejekan dengan mengatasnamakan kebebasan berbicara dan berpendapat.
Dan beberapa hari yang lalu setelah acara singkat yang menyenangkan, saya semakin yakin bahwa diatas semua perbincangan, diatas semua rasa egoisme saya yang terbaik atau agama saya yang paling benar ada hal lain yang seharusnya kita tandai bersama. Bahwa tidak ada agama yang tidak mengajarkan pada kebaikan. Apabila ada orang orang yang mengatasnamakan agama bisa berbicara keras, lantang, menghina dan merasa benar sehingga menyakiti orang lain pun dianggap syah, maka itu bukan bagian dari agama.
Saya melihat ide dasar gerakan Karen Armstrong dengan 'charter of compassion' nya akan melepaskan dari sekat sekat egoisme, sekat sekat golongan dan agama, dan mempersatukan manusia dalam gerakan penuh kasih sayang dan memperlakukan orang lain seperti halnya kita ingin diperlakukan orang lain. Dan hal hal berupa benda, kebanggaan akan pencapaian duniawi sepertinya menjadi tidak penting lagi.
Dan saya merindukan sebuah pembicaraan tanpa membelalakan mata, tanpa saling menjatuhkan, tanpa nada kecongkakan untuk membuktikan lebih baik dari orang lain, tanpa merasa kebenaran adalah milik sendiri.Saya merindukan mata yang berkaca kaca ketika melihat para pemulung di pagi buta yang mencari sisa sampah manusia lain..saya merindukan hati yang berdebar ketika melihat mata anak anak kecil yang merindukan pengetahuan tanpa perlu membayar mahal..
Ah,ternyata saya pernah disana, berada dalam pembicaraan pembicaraan santai di sebuah kedai kopi, di dalam perjalanan panjang menuju tempat tempat yang jarang terjamah, dalam sarapan pagi di depan hawu (perapian untuk memasak di desa). Tidak ada perdebatan yang tanpa diakhiri dengan senyum, tidak ada omong kosong mencari pembuktian kesalahan orang lain, yang ada adalah perbincangan mengenai bagaimana cara kita melakukan sesuatu yang lebih baik untuk orang lain. Dan tidak ada sekat bernama agama, suku bangsa,harta kekayaan dan kelompok ini itu atau rasa curiga pada orang lain. Jadi dimana saya harus mencari kembali perasaan 'patah hati' ketika melihat penderitaan orang lain dibandingkan perasaan senang,bangga dan merasa cukup berbuat ketika baru melakukan hal baik bak setetes air di lautan samudra di semesta..
#menjauh sejenak dari hiruk pikuk pembicaraan entah berantah mengenai kebanggaan semu bernama benda ini itu dan jiwa narsistik..mencari obat bagi diri sendiri
Seperti mimpi rasanya menyaksikan 'kebangkitan' kebaikan, welas asih dan cinta sesama menjadi pembicaraan utama dalam public lecture penulis terkenal Karen Armstrong. Itu seperti sebuah oase yang memberi secercah kesegaran di keringnya pembicaran pembicaraan lain,perdebatan tak kunjung henti antar umat beragama bahkan antar golongan golongan dalam agama itu sendiri. Atau pembicaraan mengenai benda ini itu, pencapaian ini itu yang mengeringkan hati dan mengikis kebersyukuran karena selalu mendongak ke atas.
Rasanya sudah sangat lama saya tidak mendengar pembicaraan dengan pokok utama mengesampingkan perbedaan dan mengedepankan persamaan , atau pembicaraan bagaimana membuat diri lebih berwelas asih pada yang berkekurangan atau menjadikan dunia menjadi tempat yang lebih nyaman bagi kita dan masa depan. Rasa rasanya manusia di jaman ini ketika informasi berseliweran dengan mudahnya di telapak tangan kita dan ketika kicauan siapapun bisa dengan bebas dan mudah diakses dari manapun dengan kecepatan dahsyat, telah merubah kita. Kita menjadi manusia manusia sakit yang selalu ingin disanjung , ingin dipuji dan dan senang membicarakan hal hal kebendaan, pencapaian ini itu yg bersifat fisical berjam jam , beratus hari dalam hidup. I hate that socmed for this..
Kita menjadi manusia manusia yang berusaha mengasah otak dan pendapat kita dengan mengedepankan egoisme pribadi ataupun golongan. Kita berusaha mematahkan pendapat orang lain, saling memakan satu sama lain dan menjadi mudah terlontar kata hinaan dan ejekan dengan mengatasnamakan kebebasan berbicara dan berpendapat.
Dan beberapa hari yang lalu setelah acara singkat yang menyenangkan, saya semakin yakin bahwa diatas semua perbincangan, diatas semua rasa egoisme saya yang terbaik atau agama saya yang paling benar ada hal lain yang seharusnya kita tandai bersama. Bahwa tidak ada agama yang tidak mengajarkan pada kebaikan. Apabila ada orang orang yang mengatasnamakan agama bisa berbicara keras, lantang, menghina dan merasa benar sehingga menyakiti orang lain pun dianggap syah, maka itu bukan bagian dari agama.
Saya melihat ide dasar gerakan Karen Armstrong dengan 'charter of compassion' nya akan melepaskan dari sekat sekat egoisme, sekat sekat golongan dan agama, dan mempersatukan manusia dalam gerakan penuh kasih sayang dan memperlakukan orang lain seperti halnya kita ingin diperlakukan orang lain. Dan hal hal berupa benda, kebanggaan akan pencapaian duniawi sepertinya menjadi tidak penting lagi.
Dan saya merindukan sebuah pembicaraan tanpa membelalakan mata, tanpa saling menjatuhkan, tanpa nada kecongkakan untuk membuktikan lebih baik dari orang lain, tanpa merasa kebenaran adalah milik sendiri.Saya merindukan mata yang berkaca kaca ketika melihat para pemulung di pagi buta yang mencari sisa sampah manusia lain..saya merindukan hati yang berdebar ketika melihat mata anak anak kecil yang merindukan pengetahuan tanpa perlu membayar mahal..
Ah,ternyata saya pernah disana, berada dalam pembicaraan pembicaraan santai di sebuah kedai kopi, di dalam perjalanan panjang menuju tempat tempat yang jarang terjamah, dalam sarapan pagi di depan hawu (perapian untuk memasak di desa). Tidak ada perdebatan yang tanpa diakhiri dengan senyum, tidak ada omong kosong mencari pembuktian kesalahan orang lain, yang ada adalah perbincangan mengenai bagaimana cara kita melakukan sesuatu yang lebih baik untuk orang lain. Dan tidak ada sekat bernama agama, suku bangsa,harta kekayaan dan kelompok ini itu atau rasa curiga pada orang lain. Jadi dimana saya harus mencari kembali perasaan 'patah hati' ketika melihat penderitaan orang lain dibandingkan perasaan senang,bangga dan merasa cukup berbuat ketika baru melakukan hal baik bak setetes air di lautan samudra di semesta..
#menjauh sejenak dari hiruk pikuk pembicaraan entah berantah mengenai kebanggaan semu bernama benda ini itu dan jiwa narsistik..mencari obat bagi diri sendiri
Wednesday, June 5, 2013
Tabir
Tahukah engkau bahwa kadang Tuhan menyibak mata kita, memperlihatkan hal hal buruk disaat kita hanya ingin melihat kebaikan saja di depan mata. Dan itu yang membuat semua tabir terasa terbuka.
Dan disanalah jebakannya, ketika kita bertekad hanya membawa cinta dan kasih sayang dalam hidup dan disaat itu pula keburukan ditampakkan. Sehingga kaki terasa gamang untuk memilih. Memilih memaki keburukan ataukah mencari aspek kasih sayang dan kebaikan di dalamnya...
Tapi yakinlah, saat itu akan terlampaui..mungkin kita hanya perlu mengambil jarak
Melihat dari puncak pegunungan hiruk pikuk di bawah sana
Merasakan sejenak angin dan sepi menerpa wajah
Menyiapkan hati seluas samudera sehingga ketika kita turun gunung hati kita hanya melihat sisi baik, kasih dan sayang dari semuanya.
Dan Dia sudah pasti akan kembali menutup tabir...
Thursday, May 30, 2013
Penemu
Einsten pernah membut alat untuk berbicara pada hantu.edison pernah tidak berhasil menetaskan telur.hubble adalah teleskop yang ada di luar angkasa.
Monday, May 27, 2013
Tangan di bawah atau tangan di atas?
Berani menjadi tangan yang di atas itu memang sulit
Saya melihat banyak orang yang tergila gila dengan status 'menerima, mendapatkan sesuatu dgn gratis atau bisa menawar gila gilaan' dan ini menjadi kebanggaan.
Mari kita kembali melihat, ini dunia sudah jungkir balik kah ketika meminta, memaksa orang memberi pada kita menjadi hal yang lumrah bahkan jadi kebanggaan?
Tidakkah 'mengemis' menjadi sesuatu yang harusnya dihindarkan ? Tidakkah kita malu untuk selalu menjadi tangan yang di bawah? Sementara posisi kita jauh lebih beruntung dari orang yang seharusnya menjadi 'tangan yang dibawah'. Kita masih bisa mendapatkan makanan dengan mudah, bisa makan di warteg manapun tanpa perlu melirik isi dompet, kita masih bisa membeli sandang paling tidak satu kali dalam setahun ketika lebaran ketika orang lain menunggu makanan sisa dan baju bekas.
Kadang saya miris melihat bagaimana manusia masih merasa kekurangan sementara aset berlimpah, masih mendapat uang setiap bulan dengan rutin sehingga masih 'berhitung' dengan ketat untuk memberi sekedar tips untuk orang yang bekerja mati matian setiap hari, masih berebut untuk mendapatkan 'kemurahan hati orang lain' untuk 'memberi ' pada kita dalam bentuk apapun. Tidakkah kita malu dengan harta yang kita simpan, kita sembunyikan dan harga diri kita sendiri..
Dan kembali, menjadi orang yang iklas memberi untuk orang lain itu sulit..
Selama dunia dengan kapitalisme nya menjerat kita sehingga kita terpaksa menjadi mahluk survivor yang merasa harus berjuang mati matian, bahkan membunuh nurani dan mengesampingkan saudara kita sendiri yang bisa jadi jauh lebih tidak beruntung dari kita tetapi masih punya dignity untuk berkata 'terima kasih, saya tidak perlu disumbang, saya membayar yang saya beli dengan harga yang sesungguhnya'
Alhamdulilah, saya masih melihat banyak orang di sisi lain yang menolak untuk dikasihani, menolak memanfaatkan pertemanan untuk mengambil keuntungan pribadi, menolak menjual harga diri dan nurani...
Dan sepertinya saya harus bersama orang orang seperti itu..supaya saya tidak ketularan jadi kanibal kapitalis yang melahap setiap orang di sisinya karena dia selalu merasa lapar..
*ampun ya Allah kalau saya pernah atau bahkan masih seperti itu saat ini.
Saya melihat banyak orang yang tergila gila dengan status 'menerima, mendapatkan sesuatu dgn gratis atau bisa menawar gila gilaan' dan ini menjadi kebanggaan.
Mari kita kembali melihat, ini dunia sudah jungkir balik kah ketika meminta, memaksa orang memberi pada kita menjadi hal yang lumrah bahkan jadi kebanggaan?
Tidakkah 'mengemis' menjadi sesuatu yang harusnya dihindarkan ? Tidakkah kita malu untuk selalu menjadi tangan yang di bawah? Sementara posisi kita jauh lebih beruntung dari orang yang seharusnya menjadi 'tangan yang dibawah'. Kita masih bisa mendapatkan makanan dengan mudah, bisa makan di warteg manapun tanpa perlu melirik isi dompet, kita masih bisa membeli sandang paling tidak satu kali dalam setahun ketika lebaran ketika orang lain menunggu makanan sisa dan baju bekas.
Kadang saya miris melihat bagaimana manusia masih merasa kekurangan sementara aset berlimpah, masih mendapat uang setiap bulan dengan rutin sehingga masih 'berhitung' dengan ketat untuk memberi sekedar tips untuk orang yang bekerja mati matian setiap hari, masih berebut untuk mendapatkan 'kemurahan hati orang lain' untuk 'memberi ' pada kita dalam bentuk apapun. Tidakkah kita malu dengan harta yang kita simpan, kita sembunyikan dan harga diri kita sendiri..
Dan kembali, menjadi orang yang iklas memberi untuk orang lain itu sulit..
Selama dunia dengan kapitalisme nya menjerat kita sehingga kita terpaksa menjadi mahluk survivor yang merasa harus berjuang mati matian, bahkan membunuh nurani dan mengesampingkan saudara kita sendiri yang bisa jadi jauh lebih tidak beruntung dari kita tetapi masih punya dignity untuk berkata 'terima kasih, saya tidak perlu disumbang, saya membayar yang saya beli dengan harga yang sesungguhnya'
Alhamdulilah, saya masih melihat banyak orang di sisi lain yang menolak untuk dikasihani, menolak memanfaatkan pertemanan untuk mengambil keuntungan pribadi, menolak menjual harga diri dan nurani...
Dan sepertinya saya harus bersama orang orang seperti itu..supaya saya tidak ketularan jadi kanibal kapitalis yang melahap setiap orang di sisinya karena dia selalu merasa lapar..
*ampun ya Allah kalau saya pernah atau bahkan masih seperti itu saat ini.
Sunday, April 21, 2013
How to appreciate others
Ini adalah sedikit catatan mengenai bagimana sebuah perjanjian pertemuan menjadi salah satu cara untuk menjadikan kita terlihat profesional dalam bekerja atau menjadi manusia sosial yang menyenangkan untuk orang lain
1. Jangan pernah menjanjikan pertemuan tanpa kejelasan waktu. Semua orang tidak hidup untuk menunggu anda sepanjang hari . Bahkan suami/istri sendiripun mempunyai kehidupan dan jadwal sendiri. Dan ingat, kita tidak hidup di dunia percenayangan yang bisa mengetahui pikiran orang lain tanpa bicara. jadi, tetapkan dan bicarakan waktu pertemuan pada orang yang akan ditemui termasuk rentang waktu luang kita untuk bertemu.
2. Tepat waktu menandakan kita menghargai orang yang akan kita temui. Orang lain bukan seperti penjaga keamanan yang bisa standby 24 jam sehari di sebuah tempat. Bahkan kalau bisa kita datang lebih awal 5-10 menit untuk memperlihatkan bahwa kita menghargai perjanjian tsb terutama perjanjian bisnis.
3. Konfirmasikan apabila mengalami kendala dalam memenuhi janji pertemuan seperti macet,kecelakaan, ataupun tiba tiba kehilangan mood - you can always give a thousands reason -Bahwa kita akan sangat amat terlambat datang atau tidak akan datang sama sekali. Orang akan memandang kita tidak beritikad baik apabila kita baru mengkonfirmasikan terlambat tiba di waktu perjanjian. Apalagi perjanjian di tempat yang berjarak jauh , kita bisa memprediksikan waktu perjalanan misalnya seharusnya kita pergi pada jam 12 siang untuk appointmen jam 14, jelas akan terlambat apabila kita pada jam 13 belum pergi. Sebetulnya cara berhitung ini matematika yang paling sederhana . Jangan sampai kita dikira buta hitung atau tidak bisa baca jam atau tidak punya jam. Kayaknya mustahil karena di handphone pun ada penanda waktu.
4. Prediksikan lama persiapan sebelum meeting, kalau kita suka leyeh leyeh di bathtub berjam jam,memilih baju ber jam jam, harus ngepel dulu di rumah, punya kewajiban yang tidak bisa diganggu gugat buat jd ojeg,harus masak dulu , bangun kesiangan, ga punya alarm , minta ijin sama majikan yang berbelit belit, sediakan waktu yang cukup untuk itu daripada kita menjanjikan di waktu yang mepet.karena sudah dipastikan kita akan telat.
5. Apabila pertemuan melalui jalan jalan yang rawan macet,bencana alam (longsor, banjir) , jalan rusak, maka ketika kita akan pergi menuju tempat pertemuan kabarilah orang yang akan ditemui supaya apabila terjadi keterlambatan mereka bisa memaklumi dgn alasan, mungkin dia berenang dulu menyebrangi daerah banjir atau menggali tanah longsor supaya bisa lewat(emangnya mau kemanaa iniii...)
6. perhatikan moda kendaraan yg kita gunakan,kendaraan roda dua akan lebih cepat tiba dibandingkankendaraan roda 4, angkot, delman, bus , gerobak sampah atau berjalan kaki. Predict your time..
7. Ingatlah bahwa setiap orang akan mengingat janji, kalau kita pernah menjanjikan membawa sesuatu barang atau files ,persiapkan sebelum meeting. People love surprise.. Apalagi kalau kita membawakan hal yg sudah lama terlupa.
8. Keep contact, kabari bahwa kita telah pergi menuju tempat pertemuan dan akan tiba dalam rentang waktu yg diperkirakan , atau kalau telatnya gila gilaan boleh juga mengarang apabila di jalan dicegat paspampres untuk foto bareng presiden dulu, bertemu richard gere di jalan dan tidak bisa menolak makan siang dulu bersama dia (padahal bisa jadi kita masih tidur di rmah :D) eh tapi bohong ya jadinya hehe.. Dosa tanggung sendiri..
9. Beranilah untuk menggagalkan pertemuan tidak pada detik detik terakhir , apalagi kalau orang yg akan ditemui sudah dalam perjalanan atau sudah sampai di tempat pertemuan. Ketika kita memakai sejuta alasan yg tidak masuk akal , orang lain akan tetap menilai kita membodohi orang tersebut . Berani jujur akan lebih dihargai apalagi dengan keinginan untuk memperbaiki dengan menawarkan perjanjian lain yang mengikuti waktu klien / orang yg gagal bertemu.
10. Keprofesionalan kita dalam bekerja akan diragukan ketika untuk perjanjian meeting santai pun kita sering terlambat, tidak datang dan tidak menepati janji. Dan jangan harap orang lain akan mempercayai kita kalau untuk menjadi tepat waktupun belum bisa dilakukan.
Sekian dan terimakasih (ini materi kuliah atau apa yak)
1. Jangan pernah menjanjikan pertemuan tanpa kejelasan waktu. Semua orang tidak hidup untuk menunggu anda sepanjang hari . Bahkan suami/istri sendiripun mempunyai kehidupan dan jadwal sendiri. Dan ingat, kita tidak hidup di dunia percenayangan yang bisa mengetahui pikiran orang lain tanpa bicara. jadi, tetapkan dan bicarakan waktu pertemuan pada orang yang akan ditemui termasuk rentang waktu luang kita untuk bertemu.
2. Tepat waktu menandakan kita menghargai orang yang akan kita temui. Orang lain bukan seperti penjaga keamanan yang bisa standby 24 jam sehari di sebuah tempat. Bahkan kalau bisa kita datang lebih awal 5-10 menit untuk memperlihatkan bahwa kita menghargai perjanjian tsb terutama perjanjian bisnis.
3. Konfirmasikan apabila mengalami kendala dalam memenuhi janji pertemuan seperti macet,kecelakaan, ataupun tiba tiba kehilangan mood - you can always give a thousands reason -Bahwa kita akan sangat amat terlambat datang atau tidak akan datang sama sekali. Orang akan memandang kita tidak beritikad baik apabila kita baru mengkonfirmasikan terlambat tiba di waktu perjanjian. Apalagi perjanjian di tempat yang berjarak jauh , kita bisa memprediksikan waktu perjalanan misalnya seharusnya kita pergi pada jam 12 siang untuk appointmen jam 14, jelas akan terlambat apabila kita pada jam 13 belum pergi. Sebetulnya cara berhitung ini matematika yang paling sederhana . Jangan sampai kita dikira buta hitung atau tidak bisa baca jam atau tidak punya jam. Kayaknya mustahil karena di handphone pun ada penanda waktu.
4. Prediksikan lama persiapan sebelum meeting, kalau kita suka leyeh leyeh di bathtub berjam jam,memilih baju ber jam jam, harus ngepel dulu di rumah, punya kewajiban yang tidak bisa diganggu gugat buat jd ojeg,harus masak dulu , bangun kesiangan, ga punya alarm , minta ijin sama majikan yang berbelit belit, sediakan waktu yang cukup untuk itu daripada kita menjanjikan di waktu yang mepet.karena sudah dipastikan kita akan telat.
5. Apabila pertemuan melalui jalan jalan yang rawan macet,bencana alam (longsor, banjir) , jalan rusak, maka ketika kita akan pergi menuju tempat pertemuan kabarilah orang yang akan ditemui supaya apabila terjadi keterlambatan mereka bisa memaklumi dgn alasan, mungkin dia berenang dulu menyebrangi daerah banjir atau menggali tanah longsor supaya bisa lewat(emangnya mau kemanaa iniii...)
6. perhatikan moda kendaraan yg kita gunakan,kendaraan roda dua akan lebih cepat tiba dibandingkankendaraan roda 4, angkot, delman, bus , gerobak sampah atau berjalan kaki. Predict your time..
7. Ingatlah bahwa setiap orang akan mengingat janji, kalau kita pernah menjanjikan membawa sesuatu barang atau files ,persiapkan sebelum meeting. People love surprise.. Apalagi kalau kita membawakan hal yg sudah lama terlupa.
8. Keep contact, kabari bahwa kita telah pergi menuju tempat pertemuan dan akan tiba dalam rentang waktu yg diperkirakan , atau kalau telatnya gila gilaan boleh juga mengarang apabila di jalan dicegat paspampres untuk foto bareng presiden dulu, bertemu richard gere di jalan dan tidak bisa menolak makan siang dulu bersama dia (padahal bisa jadi kita masih tidur di rmah :D) eh tapi bohong ya jadinya hehe.. Dosa tanggung sendiri..
9. Beranilah untuk menggagalkan pertemuan tidak pada detik detik terakhir , apalagi kalau orang yg akan ditemui sudah dalam perjalanan atau sudah sampai di tempat pertemuan. Ketika kita memakai sejuta alasan yg tidak masuk akal , orang lain akan tetap menilai kita membodohi orang tersebut . Berani jujur akan lebih dihargai apalagi dengan keinginan untuk memperbaiki dengan menawarkan perjanjian lain yang mengikuti waktu klien / orang yg gagal bertemu.
10. Keprofesionalan kita dalam bekerja akan diragukan ketika untuk perjanjian meeting santai pun kita sering terlambat, tidak datang dan tidak menepati janji. Dan jangan harap orang lain akan mempercayai kita kalau untuk menjadi tepat waktupun belum bisa dilakukan.
Sekian dan terimakasih (ini materi kuliah atau apa yak)
Wednesday, April 3, 2013
Berpetualang dan menjadi sesuatu..beachventure camp 2013
When a piece of heaven is here..
Then why should we afraid to go..
2 tahun yl saya bersama beberapa keluarga sahabat berkunjung ke sini...pulau peucang..
dahulu..15 tahun yang lalu terakhir kali saya ke pulau ini memberi kesan mendalam terhadap ujungkulon. Peucang yang terletak 2 jam perjalanan laut menyusuri semenanjung paling barat pulau jawa ini boleh dibilang pulau ter indah yang pernah saya temui.
Bayangan saya dulu ketika pertama kali akan mengunjungi ujungkulon itu seperti akan pergi ke daerah entah berantah penuh dengan binatang buas dan mengerikan. Tapi ternyata salah besar, karena memang saya hanya berdiam di taman jaya dan memasuki hutan tidak sampai ke ujungnya ujungkulon( yg memerlukan perjalanan berjalan kaki berhari2). Saya hanya berjalan memasuki hutan sampai pos penjagaan pertama diantar oleh saudara yg waktu itu bekerja di kehutanan. Whoaaa.. Indahnya hutan di ujungkulon itu eksotis, sepanjang jalan monyet bergelayut dari satu dahan ke dahan lain, bertemu ayam hutan, mendengar suara burung rangkong dari jarak dekat menimbulkan
eksotisme tersendiri. Sayang puluhan tahun yang lalu saya belum punya binokuler, padahal burung
burung indah berseliweran dalam hutan.
Dan yang terindah adalah ketika saya diajak menyebrang ke pulau peucang. Untuk menuju pulau kita tidak perlu masuk ke hutan ujungkulon, kita bisa memakai perahu dari dermaga di desa terakhir di tamanjaya. Perjalanan menyusuri tepian semenanjung selama 2 jam kita akan disuguhi dengan pemandangan hutan sepanjang pinggir pantai, bahkan kalau cuaca sedang baik kita bisa melihat anak krakatau dari kejauhan. Dan ketika sampai di dermaga kita disuguhi pemandangan yang indaaaah.. Ikan ikan hias dengan bebasnya berenang di bawah dermaga, air laut yang beraih, pasir putih dan rusa yang sedang minum di pantai dengan bebasnya berkeliaran tidak merasa takut dengan kedatangan manusia. Dan setahun yang lalu saya kembali ke peucang tidak ada yang berubah, pantai masih tetap indah, site snorkeling yang hanya puluhan meter dari pantai masih menawan untuk diselami berjam jam tanpa bosan.dan tahun kemarin kita datang kembali bersama keluarga teman dengan membawa bayi umur 6 bulan *nekaaad.
Kita dapat juga bermain ke padang penggembalaan banteng liar di pulau sebelah dan kalau jam nya pas dari menara kita bisa melihat banteng liar sedang merumput.. Waaah asiknyaaa...
Dan tahun in kita akan kembali membawa peserta beachventure camp..
Ini kali kedua ecoethno mengadakan adventure camp di pantai, setelah 2 tahun dilakukan di pegunungan kali ini kita akan kembali ke pantai. Dan peucang adalah pulau terbaik yang semoga bisa memberi kesan untuk peserta.
Karena peserta kali ini adalah anak anak umur 9-16 tahun , kita akan berpetulang dimulai dari bermalam di desa nelayan di tamanjaya, anak anak akan melihat bagaimana kehidupan di desa nelayan, melihat bagaimana makanan khas pedesaan diolah, melakukan sosialisasi dan permainan tradisional bersama anak anak desa..dan banyak hal..
Anak anak pun akan dibawa melihat keindahan alam seperti hutan, air terjun dan menghabiskan 2 hari di pulau peucang dan melihat padang penggembalaan banteng liar..
Kali ini eksplorasi kita melalui petualangan ini dimuati dengan berbagai hal , kita akan mencoba mengesplorasi keterampilan berkomunikasi, cara sharring, menentukan keputusan bersama teman dan yang paling penting bagaimana cara bernegosiasi dan bekerjasama dengan teman yang baru dikenal dalam berbagai kegiatan permainan.anak dan remaja akan dipisahkan dalam dua kelompok kegiatan yang berbeda dalam penekanan materi, meskipun mereka akan beraktifitas dalam lokasi yang sama. Diskusi, role playing dan 'mengenal diri' akan mewarnai kegiatan petualangan selama 1 minggu. Life skills menjadi titik tekan dalam beachventure kali ini,karena kita sangat menyadari bahwa banyak hal dalam hidup di masa mendatang tidak hanya bisa dipecahkan hanya dengan kemampuan inteletual yang tinggi, aspek ketahanan dalam mengatasi konflik, mengalahkan diri sendiri, percaya pada kemampuan diri dan tahu apa yang menjadi target dan tujuan dalam hidup tidak kalah pentingnya untuk dilatih sejak dini.
Khusus untuk kelas remaja kita akan mencoba berbincang, diskusi dan memantapkan arti diri seorang remaja, bagaimana menentukan identitas diri, mengatasi rasa galau sebagai remaja dan banyak hal mudah mudahan bisa memberi sedikit warna dalam kehidupan mereka.
Bagi anak anak yang beragama islam, materi ibadah darurat menjadi salah satu materi selama perjalanan. Dan seperti biasa tujuan setiap perjalanan kita akan kental dengan nuansa environmentalisme, anak anak akan belajar bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik terhadap lingkungan. Konsep recycle, reuse dan reduce serta penghargaan akan kearifan tradisional.
Dan saya berharap.. Ini tidak hanya jadi satu perjalanan berpetualang...tetapi menjadi kuasan tinta untuk jiwa para peserta bahwa banyak hal berharga yang perlu mereka jaga di dunia ini..dan semoga pengalaman dapat menorehkan banyak hal positif dalam diri mereka di masa datang..
Mudah mudahan...
Anak anak pun akan dibawa melihat keindahan alam seperti hutan, air terjun dan menghabiskan 2 hari di pulau peucang dan melihat padang penggembalaan banteng liar..
Kali ini eksplorasi kita melalui petualangan ini dimuati dengan berbagai hal , kita akan mencoba mengesplorasi keterampilan berkomunikasi, cara sharring, menentukan keputusan bersama teman dan yang paling penting bagaimana cara bernegosiasi dan bekerjasama dengan teman yang baru dikenal dalam berbagai kegiatan permainan.anak dan remaja akan dipisahkan dalam dua kelompok kegiatan yang berbeda dalam penekanan materi, meskipun mereka akan beraktifitas dalam lokasi yang sama. Diskusi, role playing dan 'mengenal diri' akan mewarnai kegiatan petualangan selama 1 minggu. Life skills menjadi titik tekan dalam beachventure kali ini,karena kita sangat menyadari bahwa banyak hal dalam hidup di masa mendatang tidak hanya bisa dipecahkan hanya dengan kemampuan inteletual yang tinggi, aspek ketahanan dalam mengatasi konflik, mengalahkan diri sendiri, percaya pada kemampuan diri dan tahu apa yang menjadi target dan tujuan dalam hidup tidak kalah pentingnya untuk dilatih sejak dini.
Khusus untuk kelas remaja kita akan mencoba berbincang, diskusi dan memantapkan arti diri seorang remaja, bagaimana menentukan identitas diri, mengatasi rasa galau sebagai remaja dan banyak hal mudah mudahan bisa memberi sedikit warna dalam kehidupan mereka.
Bagi anak anak yang beragama islam, materi ibadah darurat menjadi salah satu materi selama perjalanan. Dan seperti biasa tujuan setiap perjalanan kita akan kental dengan nuansa environmentalisme, anak anak akan belajar bagaimana menjadi pribadi yang lebih baik terhadap lingkungan. Konsep recycle, reuse dan reduce serta penghargaan akan kearifan tradisional.
Dan saya berharap.. Ini tidak hanya jadi satu perjalanan berpetualang...tetapi menjadi kuasan tinta untuk jiwa para peserta bahwa banyak hal berharga yang perlu mereka jaga di dunia ini..dan semoga pengalaman dapat menorehkan banyak hal positif dalam diri mereka di masa datang..
Mudah mudahan...
Sunday, March 24, 2013
Ulin di bandung
Ah lama tidak menulis di sini..
Seperti biasa terjebak urusan berbagai macam hal.
Salah satunya adalah dalam sebulan terakhir saya jumpalitan meng arrange kegiatan Ulin Di Bandung.
Awalnya saya tidak pernah mau membuat kegiatan pendek di kota, tetapi teman saya anne mengajak saya membuat kegiatan pendek. Idenya dia di awal sih ingin membuat 'mini kidzania' dengan lebih 'real' di bandung. Dari pembicaraan bergulir sehingga keluarlah konsep ulin di bandung.
Ulin di Bandung pada awalnya hanya ingin mengajak anak anak menggeluti hobi baru yaitu fotografi, muatan muatan lain yang sebetulnya kental adalah kita ingin kembali mengajak anak anak kembali ke dunia bermain non virtual mengingat anak anak sekarang sudah begitu terikat dengan tv, internet, games di komputer.kita ingin motorik kasar dan halus anak kembali terasah, dan diatas itu semua konsep 'creativity, environmental and culture awareness' menjadi materi utama.
Kebetulan tanggal 22 adalah world water days sehingga bertepatanlah urusan kualitas air dan bagaimana cara menghemat air menjadi titik tekan di ulin di bandung selain mengenalkan kembali anak anak pada permainan , makanan dan transportasi ala bandung.
Awalnya saya ragu, konsep ini bisa diterima orangtua tidak ya, apalagi kegiatannya berbayar, yg kata beberapa orang cukup tinggi tapi ya bagaimana lagi, untuk operasional nya memang cukup tinggi karena saya seperti biasa ingin semua dijalankan dengan kualitas terbaik dan bukan asal jadi.
Alhamdulilah setelah berjibaku mempromosikan kegiatan ini selama sebulan betul betul sendiri dan hanya dibantu ica untuk menyiapkan tools promosi terkumpul 40 anak (3 orang batal hadir , seharusnya 43 anak) dari berbagai kota (bogor, bekasi, jakarta dan bandung) dan juga kita mulai memanfaatkan remaja remaja yg masih anak kawan kawan saya untuk mereka mencoba berkegiatan (mereka hanya menjaga pos pos dalam treasure hunts games) dan para chaperone yang meskipun baru bergabung dengan ecoethno tapi mereka profesional dalam menghandle adik karena mereka guru guru sebuah sekolah di bandung yang mempunyai concern lebih di bidang lingkungan dan budaya.
Kegiatan lumayan rame meskipun ada pemotongan kegiatan di taman cilaki karena hujan mendadak turun di siang hari. But everything under control and we all happy..
Saya bahagia meskipun kegiatan ini terus terang tidak mendapatkan keuntungan secara finansial, tapi saya senang ketika melihat anak anak dengan penuh rasa ingin tahu menjelajah hutan(mereka tidak menyangka bahwa di kota bakal ada hutan), bagaimana mereka belajar manner dalam mewawancara setiap profesi yang mereka temui di jalan, belajar menawar ongkos delman dengan baik, belajar memasak langsung snack khas bandung dan live lho di jongko pedagangnya..dan paling asik adalah ketika meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore waktunya anak anak bubar mereka masih rame rame membuat art n craft.
Yang jelas menyenangkan, selalu menyenangkan melihat anak anak bergembira. Apalagi kita dipercayai menghandle cahya dan nelta , dua anak istimewa penyandang CP yang ternyata wuiih mereka bisa mengikuti seluruh kegiatan dengan baik.
So..sampai jumpa di petualangan selanjutnya di liburan panjang, beach adventure camp di plau peucang. Insha Allah.
Seperti biasa terjebak urusan berbagai macam hal.
Salah satunya adalah dalam sebulan terakhir saya jumpalitan meng arrange kegiatan Ulin Di Bandung.
Awalnya saya tidak pernah mau membuat kegiatan pendek di kota, tetapi teman saya anne mengajak saya membuat kegiatan pendek. Idenya dia di awal sih ingin membuat 'mini kidzania' dengan lebih 'real' di bandung. Dari pembicaraan bergulir sehingga keluarlah konsep ulin di bandung.
Ulin di Bandung pada awalnya hanya ingin mengajak anak anak menggeluti hobi baru yaitu fotografi, muatan muatan lain yang sebetulnya kental adalah kita ingin kembali mengajak anak anak kembali ke dunia bermain non virtual mengingat anak anak sekarang sudah begitu terikat dengan tv, internet, games di komputer.kita ingin motorik kasar dan halus anak kembali terasah, dan diatas itu semua konsep 'creativity, environmental and culture awareness' menjadi materi utama.
Kebetulan tanggal 22 adalah world water days sehingga bertepatanlah urusan kualitas air dan bagaimana cara menghemat air menjadi titik tekan di ulin di bandung selain mengenalkan kembali anak anak pada permainan , makanan dan transportasi ala bandung.
Awalnya saya ragu, konsep ini bisa diterima orangtua tidak ya, apalagi kegiatannya berbayar, yg kata beberapa orang cukup tinggi tapi ya bagaimana lagi, untuk operasional nya memang cukup tinggi karena saya seperti biasa ingin semua dijalankan dengan kualitas terbaik dan bukan asal jadi.
Alhamdulilah setelah berjibaku mempromosikan kegiatan ini selama sebulan betul betul sendiri dan hanya dibantu ica untuk menyiapkan tools promosi terkumpul 40 anak (3 orang batal hadir , seharusnya 43 anak) dari berbagai kota (bogor, bekasi, jakarta dan bandung) dan juga kita mulai memanfaatkan remaja remaja yg masih anak kawan kawan saya untuk mereka mencoba berkegiatan (mereka hanya menjaga pos pos dalam treasure hunts games) dan para chaperone yang meskipun baru bergabung dengan ecoethno tapi mereka profesional dalam menghandle adik karena mereka guru guru sebuah sekolah di bandung yang mempunyai concern lebih di bidang lingkungan dan budaya.
Kegiatan lumayan rame meskipun ada pemotongan kegiatan di taman cilaki karena hujan mendadak turun di siang hari. But everything under control and we all happy..
Saya bahagia meskipun kegiatan ini terus terang tidak mendapatkan keuntungan secara finansial, tapi saya senang ketika melihat anak anak dengan penuh rasa ingin tahu menjelajah hutan(mereka tidak menyangka bahwa di kota bakal ada hutan), bagaimana mereka belajar manner dalam mewawancara setiap profesi yang mereka temui di jalan, belajar menawar ongkos delman dengan baik, belajar memasak langsung snack khas bandung dan live lho di jongko pedagangnya..dan paling asik adalah ketika meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore waktunya anak anak bubar mereka masih rame rame membuat art n craft.
Yang jelas menyenangkan, selalu menyenangkan melihat anak anak bergembira. Apalagi kita dipercayai menghandle cahya dan nelta , dua anak istimewa penyandang CP yang ternyata wuiih mereka bisa mengikuti seluruh kegiatan dengan baik.
So..sampai jumpa di petualangan selanjutnya di liburan panjang, beach adventure camp di plau peucang. Insha Allah.
Tuesday, March 5, 2013
Try to be the better me
I clean up the mess..
Hari ini memang penuh ujian buat saya
Sudah sejak lama saya menahan diri untuk tidak melakukan 'kekerasan' dalam memecahkan banyak persoalan, saya belajar menjadi diri yang baru dengan banyak menahan 'mengumbar kemarahan' dengan cara yang tidak perlu seperti berkata kata dengan gaya straight, cynical, atau memberi 'ultimatum' dengan gaya 'keras'. Tapi hari ini saya harus berjuang setengah mati untuk menahan diri dengan berbagai masalah dalam pekerjaan, saya berusaha tidak menyalahkan orang lain, berusaha menjadi diri saya yang lebih baik dan pada akhirnya dalam sehari saya terombang ambing menahan marah, melontarkan peluru kemarahan dan pada akhirnya berusaha calm down kembali. Wuihhh..berusaha menjadi lebih baik itu ternyata sulit. Tuhan punya ribuan cara untuk membuat saya terlibat lagi dalam berbagai kekacauan yang menuntut saya 'clean up the mess' dan saya berusaha membersihkan semuanya dengan menahan emosi. Ita not as simple as that..
Mungkin orang akan terheran heran melihat saya yang bisa berubah dari gaya calm down menjadi meledak ledak dan 'Galak' setengah mati..but i try..i try to be better than before.
Dan betul, Dia jago membuat hidup seseorang berwarna setelah saya tadi siang merasa bisa sedikit 'calm down' tiba tiba BB saya mati dan tidak bisa dinyalakan kembali . sungguh saya berusaha mati matian menjaga pikiran dan perasaan saya untuk tidak menganalisa dan menyalahkan orang lain atau bbm grup yang selalu bikin nge hang BB saya...dan berusaha tenang dan kembali 'clean up the mess'..
Dan saya merasa seperti mahluk di jaman batu dengan hp sementara yang hanya bisa sms dan menelepon , oh..bahkan emoticon pun tak ada di hp ini hihihi...
* try to be easy like sunday morning...
Hari ini memang penuh ujian buat saya
Sudah sejak lama saya menahan diri untuk tidak melakukan 'kekerasan' dalam memecahkan banyak persoalan, saya belajar menjadi diri yang baru dengan banyak menahan 'mengumbar kemarahan' dengan cara yang tidak perlu seperti berkata kata dengan gaya straight, cynical, atau memberi 'ultimatum' dengan gaya 'keras'. Tapi hari ini saya harus berjuang setengah mati untuk menahan diri dengan berbagai masalah dalam pekerjaan, saya berusaha tidak menyalahkan orang lain, berusaha menjadi diri saya yang lebih baik dan pada akhirnya dalam sehari saya terombang ambing menahan marah, melontarkan peluru kemarahan dan pada akhirnya berusaha calm down kembali. Wuihhh..berusaha menjadi lebih baik itu ternyata sulit. Tuhan punya ribuan cara untuk membuat saya terlibat lagi dalam berbagai kekacauan yang menuntut saya 'clean up the mess' dan saya berusaha membersihkan semuanya dengan menahan emosi. Ita not as simple as that..
Mungkin orang akan terheran heran melihat saya yang bisa berubah dari gaya calm down menjadi meledak ledak dan 'Galak' setengah mati..but i try..i try to be better than before.
Dan betul, Dia jago membuat hidup seseorang berwarna setelah saya tadi siang merasa bisa sedikit 'calm down' tiba tiba BB saya mati dan tidak bisa dinyalakan kembali . sungguh saya berusaha mati matian menjaga pikiran dan perasaan saya untuk tidak menganalisa dan menyalahkan orang lain atau bbm grup yang selalu bikin nge hang BB saya...dan berusaha tenang dan kembali 'clean up the mess'..
Dan saya merasa seperti mahluk di jaman batu dengan hp sementara yang hanya bisa sms dan menelepon , oh..bahkan emoticon pun tak ada di hp ini hihihi...
* try to be easy like sunday morning...
Monday, February 25, 2013
It just a number
Getting 40's is just like another day..
Katanya hidup berawal ketika usia menginjak 40 tahun, is it?
Katanya juga seseorang harus sudah mulai menapaki jalan menuju Dia di usia 40 tahun..
Ah tidak mengerti juga sih..
Karena buat saya umur itu hanya angka
Berapapun umur kita, ketika hari ulang tahun rasanya akan sama
Merasa semakin tua, harus semakin bijaksana (seperti pesan ica tadi mlm ketika anak anak membuat poster sejak hari minggu, memesan pizza hut delivery - yg meskipun bukan makanana favorit saya tetapi favorit mereka)
Dan semakin ulangtahun bagi saya masih sama, saya menandai orang orang istimewa yg mengingat tanggal ini, yang mau pagi pagi mengirim pesan singkat, dan yang memberi kejutan kecil. Setiap orang pasti menyukai kejutan, menyukai perhatian, menyukai bahwa mereka diingat , tanpa perlu hadiah sekalipun. Karena hadiah terindah bagi saya adalah saya berada dalam ingatan mereka..
* and it would be ironic when someone we love is forget this day..
Thank god i still have them.
Katanya hidup berawal ketika usia menginjak 40 tahun, is it?
Katanya juga seseorang harus sudah mulai menapaki jalan menuju Dia di usia 40 tahun..
Dan saya merasa betul kalau saya sudah menapaki jalan hidup saya sekian lama ini entah apakah lebih banyak memberi arti, entah menyelamatkan saya di akhirat atau tidak..
Mungkin saya harus membuat resolusi tapi saya pikir separuh hidup saya sudah berjalan dengan prinsip 'let it flow' dan mungkin sekarang dan ke depan akan tetap demikian dengan catatan saya yang akan menjadi nakhoda dan bukan angin kencang atau hujan badai di luar sana.
Ah tidak mengerti juga sih..
Karena buat saya umur itu hanya angka
Berapapun umur kita, ketika hari ulang tahun rasanya akan sama
Merasa semakin tua, harus semakin bijaksana (seperti pesan ica tadi mlm ketika anak anak membuat poster sejak hari minggu, memesan pizza hut delivery - yg meskipun bukan makanana favorit saya tetapi favorit mereka)
Dan semakin ulangtahun bagi saya masih sama, saya menandai orang orang istimewa yg mengingat tanggal ini, yang mau pagi pagi mengirim pesan singkat, dan yang memberi kejutan kecil. Setiap orang pasti menyukai kejutan, menyukai perhatian, menyukai bahwa mereka diingat , tanpa perlu hadiah sekalipun. Karena hadiah terindah bagi saya adalah saya berada dalam ingatan mereka..
* and it would be ironic when someone we love is forget this day..
Thank god i still have them.
Wednesday, February 20, 2013
Thats really broken my heart...
Ah ternyata susah mau menulis setiap hari..
Selalu dicengkeram dan diikat pekerjaan pekerjaan domestik dan non domestik..
Dua hari yang lalu,
Saya mengikuti sebuah workshop pendidikan seharga jutaan selama dua hari di sebuah hotel standar di lembang. Melihat dari harga yang harus dibayarkan setara dengan seminar marketing pembicara terkenal saya optimis workshop ini pasti akan memberikan banyak ilmu dan pengalaman baru.
Tapi apa lacur, dari awal saya datang dari mulai pendaftaran, pembagian kamar, sampai penyelenggaraan workshop beserta materi tidak bisa membuat saya bertahan selama dua hari. Saya pergi di hari pertama karena selain saya merasa tidak terlalu penting juga karena memang ada hal yang saya rasa lebih penting untuk saya lakukan.
Tapi bukan itu yang menarik untuk dibahas karena workshop yang diselenggarakan instansi pemerintahan yang terkesan 'asal ada' sudah bukan menjadi rahasia lagi ini.
Yang menarik adalah saya melihat attitude para peserta (ada kurang lebih 450 peserta) yang nota bene adalah para pendidik dari lembaga pendidikan se jawa barat.
Image saya terhadap pendidik sebagai orang yang digugu, ditiru, memberi contoh pupus sudah dari hanya beberapa jam saya melihat interaksi dalam kegiatan itu.
Saya tidak habis fikir, bagaimana pendidik mengajarkan antri, bergiliran, sopan terhadap orang lain kalau ternyata untuk daftar ulang saja (panitia hanya menyediakan satu meja saja untuk administrasi pembagian kamar) mereka berdesakan, menyalip orang lain, dengan ringan mendesak orang lain dan berteriak teriak minta dilayani. Saya kok melihat ini seperti prilaku orang orang yang kurang terdidik. Belum lagi selama beberapa jam seminar saja saya melihat sebagian besar menjadi peserta sepertinya hadir tidak atas dasar rasa ingin tahu dan mencari ilmu karena semua asik dengan teman sebelah atau bahkan banyak yang asik bertelepon. Dan ketika materi hampir menabrak jam sholat magrib hampir semua bereaksi dengan protes berteriak menunjukkan ketidaksetujuan karena harus sholat magrib (tidak ada itu yg namanya mengacungkan tangan dan bicara bergiliran), wah saya pikir hebat ya..sholeh dan sholehah para pendidik ini. Namun ketika materi dihentikan saya pikir para peserta akan antri panjang di mushola yang berukuran kecil, ternyata antrian panjang berdesakan hanya terlihat di ruang makan. Thats broken my heart...
Lengkap sudah image pendidik di mata saya. Guru tidak lagi menjadi figur guru yang seperti dahulu saya dapatkan dari guru guru saya. Guru bisa jadi saat ini telah mengalami kemunduran . Apa memang hidup begitu beratnya sehingga harus berjuang mati matian tanpa mempedulikan lagi etika? Apa memang sekedar makan pun menjadi hal yang utama dan penting..
Dan saya pun kabur dari tempat itu..
Daripada saya harus tambah patah hati...
*haqqul yakin kalo masih ada jutaan pendidik di luar ruangan seminar itu yang jauh lebih baik, tulus dan bekerja dengan cinta. I really hope so...
Selalu dicengkeram dan diikat pekerjaan pekerjaan domestik dan non domestik..
Dua hari yang lalu,
Saya mengikuti sebuah workshop pendidikan seharga jutaan selama dua hari di sebuah hotel standar di lembang. Melihat dari harga yang harus dibayarkan setara dengan seminar marketing pembicara terkenal saya optimis workshop ini pasti akan memberikan banyak ilmu dan pengalaman baru.
Tapi apa lacur, dari awal saya datang dari mulai pendaftaran, pembagian kamar, sampai penyelenggaraan workshop beserta materi tidak bisa membuat saya bertahan selama dua hari. Saya pergi di hari pertama karena selain saya merasa tidak terlalu penting juga karena memang ada hal yang saya rasa lebih penting untuk saya lakukan.
Tapi bukan itu yang menarik untuk dibahas karena workshop yang diselenggarakan instansi pemerintahan yang terkesan 'asal ada' sudah bukan menjadi rahasia lagi ini.
Yang menarik adalah saya melihat attitude para peserta (ada kurang lebih 450 peserta) yang nota bene adalah para pendidik dari lembaga pendidikan se jawa barat.
Image saya terhadap pendidik sebagai orang yang digugu, ditiru, memberi contoh pupus sudah dari hanya beberapa jam saya melihat interaksi dalam kegiatan itu.
Saya tidak habis fikir, bagaimana pendidik mengajarkan antri, bergiliran, sopan terhadap orang lain kalau ternyata untuk daftar ulang saja (panitia hanya menyediakan satu meja saja untuk administrasi pembagian kamar) mereka berdesakan, menyalip orang lain, dengan ringan mendesak orang lain dan berteriak teriak minta dilayani. Saya kok melihat ini seperti prilaku orang orang yang kurang terdidik. Belum lagi selama beberapa jam seminar saja saya melihat sebagian besar menjadi peserta sepertinya hadir tidak atas dasar rasa ingin tahu dan mencari ilmu karena semua asik dengan teman sebelah atau bahkan banyak yang asik bertelepon. Dan ketika materi hampir menabrak jam sholat magrib hampir semua bereaksi dengan protes berteriak menunjukkan ketidaksetujuan karena harus sholat magrib (tidak ada itu yg namanya mengacungkan tangan dan bicara bergiliran), wah saya pikir hebat ya..sholeh dan sholehah para pendidik ini. Namun ketika materi dihentikan saya pikir para peserta akan antri panjang di mushola yang berukuran kecil, ternyata antrian panjang berdesakan hanya terlihat di ruang makan. Thats broken my heart...
Lengkap sudah image pendidik di mata saya. Guru tidak lagi menjadi figur guru yang seperti dahulu saya dapatkan dari guru guru saya. Guru bisa jadi saat ini telah mengalami kemunduran . Apa memang hidup begitu beratnya sehingga harus berjuang mati matian tanpa mempedulikan lagi etika? Apa memang sekedar makan pun menjadi hal yang utama dan penting..
Dan saya pun kabur dari tempat itu..
Daripada saya harus tambah patah hati...
*haqqul yakin kalo masih ada jutaan pendidik di luar ruangan seminar itu yang jauh lebih baik, tulus dan bekerja dengan cinta. I really hope so...
Monday, February 11, 2013
And i'll be back
Beberapa hari ini cukup jumpalitan karena Bandung Kayak Comunity menyelenggarakan lagi sekolah kayak dan sekarang adalah sekolah kayak angkatan ke 3. Karena sekolah kayak bukanlah sekolah dengan orientasi profit maka banyak hal yang membuat saya tercengang, terkesima, dan mengembalikan pada hal hal lama yang dulu sering kita lakukan.
Berawal dari ica yang beberapa tahun yang lalu mengejar sekolah kayak tirtaserta sampe ke purbalingga dan menghabiskan waktu 5 hari di sungai untuk mempelajari cara bermain kayak di sungai. Kemudian disusul shafa di tahun berikutnya (ketika dia berumur 10 tahun) dan pada akhirnya kita sekeluarga mulai meninggalkan 'perahu karet', sepeda gunung dan mulai mencintai kayak. Dari perbincangan bersama instruktur di tirtaseta ternyata olahraga kayak arus deras di Indonesia memang belum digemari karena sangat personal, alatnya cukup mahal dan membutuhkan kemampuan tinggi dalam bermain kayak. Dan shafa hanya segelintir anak2 yg mencoba belajar kayak(sampe muntah muntah ketika belajar di sungai klawing karena seharian di sungai)
Akhirnya di Bandung kita berinisiatif untuk menyebarkan virus bermain kayak itu menyenangkan, dari mulai membeli beberapa kayak 'on sale' di Indonesia, sampai merayu kakak Pas (thanks to k keukeu) untuk membawa kayak inflatable dari amerika ketika dia pulang kampung ke Indonesia. Yaa beli banyak kayak supaya nanti banyak orang bandung yang kesulitan dalam bermain kayak bisa pakai kayak yang ada di kita - for free.
Kemudian kita mencoba membuat sekolah kayak untuk memperkenalkan kayak dengan mendatangkan langsung instruktur bersertifikat internasional dari tirtaseta , dan dari situlah perjalanan ini bermula.
Setiap beberapa bulan sekali saya bertemu para instruktur yang menginap di rumah sebelum sekolah kayak dimulai. Dan sampai sekarang dengan susah payah sekolah kayak sdh angkatan ke 3, angkatan pertama hanya 3 peserta yang kita paksa ikut padahal mereka pendaki gunung dan pemanjat tebing, mereka kita ajak belajar kayak bahkan tanpa membayar. Ya itu supaya ide ini 'pecah telur' dulu..
Dan di angkatan berikutnya kita membatasi hanya 8-10 orang karena sistem belajar d sekolah kayak cenderung privat.
Saya senang dan saya menikmati, karena dengan mengadakan ini kita betul betul berhitung minim, supaya dapat dijangkau peserta dan biaya di charge hanya untuk keperluan akomodasi dan mendatangkan instruktur (yang mereka pun menurunkan harga untuk idealisme menyebarkan virus ini). Saya menikmati bagaimana di sekolah kayak saya harus turun ke dapur karena untuk menekan biaya operasional saya harus masak sendiri, membuat makan berat, membuat snack, melayani minuman hangat untuk para siswa sekolah kayak yang selalu tergila gila dengan kopi (karena seharian berlatih di dalam air). Saya menikmati ketika saya harus turun ke Bandung , menyimpan mobil di stasiun, pergi ke jakarta dan kembali hari itu juga ke ciwidey karena saya ada short course lain di sela sela menjadi 'bibi'. Dan ini mirip menjadi ibu ibu, dirindukan seluruh peserta karena tidak ada yang memasak snack hangat ketika saya tidak ada (maklum, saya satu2 nya perempuan di panitia).
Sekolah kayak mengingatkan saya pada masa remaja yang saya habiskan dengan kegiatan kegiatan sosial (saya pernah jualan mpek2 di taman ganesha dengan gank mabupala untuk mensubsidi keiatan liburan pesantren alam). Dan bergaul dengan para kayaker sangat menyenangkan, karena laiknya bergaul dengan para petualang, pecinta alam maka sportifitas, keceriaan , dan menjadi diri sendiri menjadi warna. Melepaskan diri dari pergaulan penuh intrik dalam pekerjaan dan pergaulan perkotaan membuat saya merasa kembali pada hal yang sudah lama saya tidak temukan. Seperti kembali menemukan diri sendiri..Merasa seperti dahulu ketika bergaul dengan 'you can raft' dengan para crew nya. Seperti bertemu saudara yang lama terpisahkan..
Dan saya terharu ketika salah satu peserta sekolah kayak kemarin berkata ketika menyambut saya sepulang dari jakarta,'saya merasa tiga hari ini makan enak, tidur enak, fresh dan release'. Alhamdulilah, jadi makanan saya lumayan enak hihihi...
Dan saya masih ingin berada di suasana ini...
Berawal dari ica yang beberapa tahun yang lalu mengejar sekolah kayak tirtaserta sampe ke purbalingga dan menghabiskan waktu 5 hari di sungai untuk mempelajari cara bermain kayak di sungai. Kemudian disusul shafa di tahun berikutnya (ketika dia berumur 10 tahun) dan pada akhirnya kita sekeluarga mulai meninggalkan 'perahu karet', sepeda gunung dan mulai mencintai kayak. Dari perbincangan bersama instruktur di tirtaseta ternyata olahraga kayak arus deras di Indonesia memang belum digemari karena sangat personal, alatnya cukup mahal dan membutuhkan kemampuan tinggi dalam bermain kayak. Dan shafa hanya segelintir anak2 yg mencoba belajar kayak(sampe muntah muntah ketika belajar di sungai klawing karena seharian di sungai)
Akhirnya di Bandung kita berinisiatif untuk menyebarkan virus bermain kayak itu menyenangkan, dari mulai membeli beberapa kayak 'on sale' di Indonesia, sampai merayu kakak Pas (thanks to k keukeu) untuk membawa kayak inflatable dari amerika ketika dia pulang kampung ke Indonesia. Yaa beli banyak kayak supaya nanti banyak orang bandung yang kesulitan dalam bermain kayak bisa pakai kayak yang ada di kita - for free.
Kemudian kita mencoba membuat sekolah kayak untuk memperkenalkan kayak dengan mendatangkan langsung instruktur bersertifikat internasional dari tirtaseta , dan dari situlah perjalanan ini bermula.
Setiap beberapa bulan sekali saya bertemu para instruktur yang menginap di rumah sebelum sekolah kayak dimulai. Dan sampai sekarang dengan susah payah sekolah kayak sdh angkatan ke 3, angkatan pertama hanya 3 peserta yang kita paksa ikut padahal mereka pendaki gunung dan pemanjat tebing, mereka kita ajak belajar kayak bahkan tanpa membayar. Ya itu supaya ide ini 'pecah telur' dulu..
Dan di angkatan berikutnya kita membatasi hanya 8-10 orang karena sistem belajar d sekolah kayak cenderung privat.
Saya senang dan saya menikmati, karena dengan mengadakan ini kita betul betul berhitung minim, supaya dapat dijangkau peserta dan biaya di charge hanya untuk keperluan akomodasi dan mendatangkan instruktur (yang mereka pun menurunkan harga untuk idealisme menyebarkan virus ini). Saya menikmati bagaimana di sekolah kayak saya harus turun ke dapur karena untuk menekan biaya operasional saya harus masak sendiri, membuat makan berat, membuat snack, melayani minuman hangat untuk para siswa sekolah kayak yang selalu tergila gila dengan kopi (karena seharian berlatih di dalam air). Saya menikmati ketika saya harus turun ke Bandung , menyimpan mobil di stasiun, pergi ke jakarta dan kembali hari itu juga ke ciwidey karena saya ada short course lain di sela sela menjadi 'bibi'. Dan ini mirip menjadi ibu ibu, dirindukan seluruh peserta karena tidak ada yang memasak snack hangat ketika saya tidak ada (maklum, saya satu2 nya perempuan di panitia).
Sekolah kayak mengingatkan saya pada masa remaja yang saya habiskan dengan kegiatan kegiatan sosial (saya pernah jualan mpek2 di taman ganesha dengan gank mabupala untuk mensubsidi keiatan liburan pesantren alam). Dan bergaul dengan para kayaker sangat menyenangkan, karena laiknya bergaul dengan para petualang, pecinta alam maka sportifitas, keceriaan , dan menjadi diri sendiri menjadi warna. Melepaskan diri dari pergaulan penuh intrik dalam pekerjaan dan pergaulan perkotaan membuat saya merasa kembali pada hal yang sudah lama saya tidak temukan. Seperti kembali menemukan diri sendiri..Merasa seperti dahulu ketika bergaul dengan 'you can raft' dengan para crew nya. Seperti bertemu saudara yang lama terpisahkan..
Dan saya terharu ketika salah satu peserta sekolah kayak kemarin berkata ketika menyambut saya sepulang dari jakarta,'saya merasa tiga hari ini makan enak, tidur enak, fresh dan release'. Alhamdulilah, jadi makanan saya lumayan enak hihihi...
Dan saya masih ingin berada di suasana ini...
Thursday, January 31, 2013
I miss myself
Pernahkah merasa lelah, overload atau burnout ? I do..
Apalagi kalau saya menemukan hal hal yang membuat saya marah, keberatan, sebal yang berlaku berulang ulang. People should be learn from the past, rite ?
Saya sering berfikir, saya harus 'mengambil jarak' , beristirahat , mengamati dari jauh, supaya saya bisa menjadi sanguin sejati yang datang kembali membawa warna.
Tapi apa iya seperti itu? Apa iya interaksi itu harus menerima yang baik baik saja, menyenangkan saja ?
Harusnya tidak, manusia harus mulai saling mengenal, berinteraksi dan ketika semakin intens maka sisi buruk dalam diri harus menjadi bagian dari interaksi..itu jadi diri sendiri, menurut saya.
Tapi mungkin banyak orang ketika bekerja, berinteraksi dengan orang lain lebih ingin melihat yang baik baik saja, yang manis, yang menyenangkan...maka saya harus diam dulu, mengambil jarak, menata diri lagi. Karena ketika sifat2 buruk muncul maka topeng lain dari diri akan keluar dan menyakiti, topeng skeptis, sinis, kemarahan dan egois.
Its a hectic world and i miss myself..
(perahu kertas)
Apalagi kalau saya menemukan hal hal yang membuat saya marah, keberatan, sebal yang berlaku berulang ulang. People should be learn from the past, rite ?
Saya sering berfikir, saya harus 'mengambil jarak' , beristirahat , mengamati dari jauh, supaya saya bisa menjadi sanguin sejati yang datang kembali membawa warna.
Tapi apa iya seperti itu? Apa iya interaksi itu harus menerima yang baik baik saja, menyenangkan saja ?
Harusnya tidak, manusia harus mulai saling mengenal, berinteraksi dan ketika semakin intens maka sisi buruk dalam diri harus menjadi bagian dari interaksi..itu jadi diri sendiri, menurut saya.
Tapi mungkin banyak orang ketika bekerja, berinteraksi dengan orang lain lebih ingin melihat yang baik baik saja, yang manis, yang menyenangkan...maka saya harus diam dulu, mengambil jarak, menata diri lagi. Karena ketika sifat2 buruk muncul maka topeng lain dari diri akan keluar dan menyakiti, topeng skeptis, sinis, kemarahan dan egois.
Its a hectic world and i miss myself..
(perahu kertas)
Monday, January 28, 2013
Islam dalam hidup
Hari ini sepanjang siang saya menghabiskan waktu berbincang dengan seseorang yang mempunyai konsep dalam hidup demikian indah. Awalnya ide membuat pusat terapis untuk anak berkebutuhan khusus dengan mengusung visi sosial bergulir pada sahabat saya sejak SMA yang kebetulan sekarang dia bekerja di bidang kesehatan. Bincang kesana kemari ingin membuat bisnis dengan visi akhirnya mulai mengerucut. Sahabat saya ingin memperkenalkan saya pada seseorang dgn metode berbeda dlm merubah manusia.
Dan sesiangan tadi saya dipertemukan dengan beliau, seorang bapak mungkin usianya 50 an sering menjadi motivator dalam berbagai seminar.
Saya kagum, karena beliau berbicara tidak dalam term 'keilmuan' sementara saya stick pada term keilmuan, Ilmu kependidikan dan pembentukan pusat terapis anak berkebutuhan khusus secara formal seperti laiknya sebuah bisnis akan dilahirkan.
Yang saya tandai adalah, bagaimana beliau memberi berbagai argumentasi atas kasus kasus anak berkebutuhan khusus didasarkan pada ilmu dalam al quran. Bagaimana quran menjelaskan fenomena DNA yang membawa sifat manusia , bagaimana pula nabi nabi dalam quran memberi 'pelajaran' dalam hidup masa kini. Yang menarik adalah saat ini beliau bekerja bersama dr ahli syaraf di jakarta untuk terapi anak berkebutuhan khusus dgn metode beliau yaitu mencari root permasalahan seorang anak melalui quran.
Entah bagaimana caranya tapi beliau melihat quran betul betul clearly, seperti manual book dan dia melihat berbagai pemecahan masalah dalam quran.ah bukannya harusnya begitu ya, sebagai umat pemeluk agama dengan kitab ini sebagai petunjuk hidup seharusnya quran bs berperan sebagai 'manual book'kehidupan sehari hari. Dan mencengangkan juga bagaimana terapi medis dari dr syarat bisa dipadukan dengan terapi quran yaitu misalnya dgn memperbaharui beberapa amal dalam keluarga dll.
Asumsi dasar dari konsep beliau pada dasarnya mirip dengan 'self healing' yaitu bagaimana persepsi dan motivasi dapat menjadi pendorong utama kesembuhan seseorang, dibantu dengan koneksi dengan Tuhan. Saya kagum dengan beliau karena betapa agama menjadi sesuatu yang 'embeded' dalam kehidupan sehari hari itu tidak hanya dalam teori saja. Jadi malu sendiri karena agama kadang bagi saya belum terintegrasi dalam hidup sehari hari. Saya masih banyak marah di jalanan ketika menyetir, saya masih tidak kuat menahan hawa nafsu berlebihan pada sesuatu hal, ah saya ini dipikir pikir beragama apa ya..hehehe
*sedang meluruskan lagi niat
Dan sesiangan tadi saya dipertemukan dengan beliau, seorang bapak mungkin usianya 50 an sering menjadi motivator dalam berbagai seminar.
Saya kagum, karena beliau berbicara tidak dalam term 'keilmuan' sementara saya stick pada term keilmuan, Ilmu kependidikan dan pembentukan pusat terapis anak berkebutuhan khusus secara formal seperti laiknya sebuah bisnis akan dilahirkan.
Yang saya tandai adalah, bagaimana beliau memberi berbagai argumentasi atas kasus kasus anak berkebutuhan khusus didasarkan pada ilmu dalam al quran. Bagaimana quran menjelaskan fenomena DNA yang membawa sifat manusia , bagaimana pula nabi nabi dalam quran memberi 'pelajaran' dalam hidup masa kini. Yang menarik adalah saat ini beliau bekerja bersama dr ahli syaraf di jakarta untuk terapi anak berkebutuhan khusus dgn metode beliau yaitu mencari root permasalahan seorang anak melalui quran.
Entah bagaimana caranya tapi beliau melihat quran betul betul clearly, seperti manual book dan dia melihat berbagai pemecahan masalah dalam quran.ah bukannya harusnya begitu ya, sebagai umat pemeluk agama dengan kitab ini sebagai petunjuk hidup seharusnya quran bs berperan sebagai 'manual book'kehidupan sehari hari. Dan mencengangkan juga bagaimana terapi medis dari dr syarat bisa dipadukan dengan terapi quran yaitu misalnya dgn memperbaharui beberapa amal dalam keluarga dll.
Asumsi dasar dari konsep beliau pada dasarnya mirip dengan 'self healing' yaitu bagaimana persepsi dan motivasi dapat menjadi pendorong utama kesembuhan seseorang, dibantu dengan koneksi dengan Tuhan. Saya kagum dengan beliau karena betapa agama menjadi sesuatu yang 'embeded' dalam kehidupan sehari hari itu tidak hanya dalam teori saja. Jadi malu sendiri karena agama kadang bagi saya belum terintegrasi dalam hidup sehari hari. Saya masih banyak marah di jalanan ketika menyetir, saya masih tidak kuat menahan hawa nafsu berlebihan pada sesuatu hal, ah saya ini dipikir pikir beragama apa ya..hehehe
*sedang meluruskan lagi niat
Wednesday, January 23, 2013
The taking of pelham 123
You know,we all owe God a debt...
and I'm a man who pays his debts...
(ryder)
Banyak film saya tonton sebagai seorang sufi sejati, bersama sesama sufi, anak2,kerabat,kekasih (dulu) hehe..
Tidak harus di bioskop, bahkan film di tv pun kalau menarik bisa saya tonton meskipun saya sudah menonton di bioskop atau dvd. Genre saya tidak pernah terikat pada salah satu jenis film, saya menyukai film film romance ala Meg Ryan dan Tom Hanks, saya juga suka thriller ala Sean Connery, bahkan film aliens dan horor pun sempat dilahap (meskipun khusus untuk fim horor harus ada orang di samping saya dan orang tsb harus dlm keadaan bangun) atau thriller yang satu ini yang baru saya lihat tadi malam, The Taking of Pelham 123 yang dirilis tahun 2009.
Saya pikir film ini adalah film standar teroris yang menyandera penumpang kereta. Tapi ternyata lumayan bagus, mungkin karena ada John Travolta - yang bermain bagus kalau jadi pemeran antagonis, as usual - dan Denzel Washington yg tidak diragukan lagi mempunyai karakter kuat sebagai aktor yang berperan menjadi seorang pegawai operator perjalanan kereta di kota New York yang sedang dalam pengawasan karena dugaan menerima uang suap. Yang menarik adalah bagaimana sebagian besar jalan cerita dalam film ini bukanlah diwarnai oleh baku hantam antar penjahat dan polisi tapi karakter kuat kedua pemain karena dalam film ini yang mewarnai sebagian besar durasi film dalam bentuk percakapan antara R (john travolta) dan Garber (denzel washington).
Saya menandai banyak percakapan yg terjadi diantara dua orang asing yang bersebrangan dan tidak mengenal satu sama lain. Yang sangat menarik adalah bagaimana seorang kriminal mendesak Garber untuk mengakui dengan jujur tentang penerimaan uang suap dan digunakan untuk apa uang suap tersebut. Percakapan lain adalah tentang bagaimana kita semua berhutang kehidupan pada Tuhan dan bagi seorang Ryder nyawa tidak menjadi hal penting, itu yang membuat dia mempunyai keberanian melakukan kejahatan di tengah kota yang sudah bisa dipastikan berkemungkinan besar membuat dirinya terbunuh . dan dia hanya berkata dalam salah satu percakapan dengan Gerber 'im a man who pay his debts'. Pun ketika dia memang menjadi martir karena pada akhirnya dia mati di tangan Gerber,ia meminta kematian datang dari tangan sahabat barunya yg baru kali itu memegang pistol dan bukan di tangan polisi. kalau saya bilang dia mati dengan cara 'gentleman' hehe...karena tidak spt film teroris lainnya (kenapa film2 john travolta dia selalu mati dengan cara yang 'bermartabat' , contohnya di Film 'face off' yang tidak jelas kematiannya). Bukan typical kematian yang tercabik2 peluru atau jatuh dari ketinggian dengan kepala hancur.
Anyway, Film ini menggambarkan banyak hal, tentang kehidupan seorang Gerber pegawai kecil pengendali arus lintas kereta api yang sederhana sehingga ia terpaksa menerima suap untuk membiayai kuliah kedua anaknya .sementara disisi lain sebagian besar karakter Gerber adalah seorang manusia yang jujur, mempunyai jiwa kepahlawanan (dengan tetap mengejar Ryder) namun berani mengorbankan dirinya. sementara sang walikota Newyork pun ketika ditawarkan untuk menggantikan 17 sandera dalam kereta api dengan lugas menjawab dia tidak bisa melakukan hal tersebut.
Dan saya berfikir, film bagaimanapun dibuat sebagai gambaran karakter manusia, artinya setiap manusia bisa bersalah, namun ada banyak ribuan sisi baik dalam dirinya yang kita tidak pernah tahu. Dan karakter manusia tidak bisa digambarkan hanya dari satu perbuatan saja meskipun kita selalu menilai, menqadili dan mengeneralisasi hanya dari satu lembar dari sebundel buku tebal kehidupan seorang manusia.
Ah..pengadilan yang sebenarnya itu hanya ketika kita bersama Dia.
Dan saya percaya Dia maha adil, maha pengampun dan kita semua masih berhutang padanya atas kehidupan...
*ini salah satu film yang membuat saya memaksakan diri bangun sambil terkantuk2
Tuesday, January 22, 2013
Berpusat pada diri sendiri..
Untuk type koleris sanguin seperti saya..(i claim myself for that) akan sangat menyebalkan berhadapan dengan orang yang tidak jelas, tidak mudah berbicara mengungkapkan sesuatu..
Saya selalu melihat sesuatu dengan gaya ceroboh sanguin saya, terburu buru mengambil kesimpulan, tidak mau ambil pusing dengan menebak nebak pikiran dan perasaan seseorang. Dan seperti tipical koleris lainnya..sikap bossy, mengambil inisiatif pun kadang membuat saya sebal..karena saya tidak ingin demikian di beberapa hal..
Oh please i start to talk myself on this..
Just stop it..
Saya selalu melihat sesuatu dengan gaya ceroboh sanguin saya, terburu buru mengambil kesimpulan, tidak mau ambil pusing dengan menebak nebak pikiran dan perasaan seseorang. Dan seperti tipical koleris lainnya..sikap bossy, mengambil inisiatif pun kadang membuat saya sebal..karena saya tidak ingin demikian di beberapa hal..
Oh please i start to talk myself on this..
Just stop it..
Sunday, January 20, 2013
Mengarungi cikapundung bersama gadisku
Hari ini adalah hari yang saya harus tulis disini, karena disini saya akan menyimpan jejak jejak bersama orang orang terdekat. Karena disini adalah gua persembunyian saya, tempat dimana saya lebih bebas menulis dibanding socmed lain.
Rumah kami terletak tidak jauh dari sungai cikapundung yang membelah kota bandung, hanya butuh waktu 10 menit berjalan kaki untuk menghirup udara segar di tepi curug dago yang merupakan salah satu bagian dari cikapundung.
Beberapa tahun belakangan memang penggiat olahraga air sedang mengamati cikapundung, awalnya memang cikapundung menjadi tempat pembuangan sampah masyarakat sekitar, namun terima kasih untuk komunitas penggiat air di cikapundung (khusus nya para riverboarders) yang tidak kenal lelah memberi penyuluhan pada masyarakat. Dan hasilnya saat ini cikapundung atas (curug dago sampai baksil) mulai bersih dan mulai terlihat keindahan jeram jeram sepanjang sungai.
Pagi ini kami bergabung dengan komunitas riverboarding di bandung untuk turun bersama ke sungai cikapundung. Saya pernah beberapa kali jalan pagi menyusuri sungai ini, dan saya pikir 'ah sungai kecil, paling class 2 ' , sehingga hari ini kita mengajak shafa untuk pengarungan sungai panjang untuk yang kedua kalinya setelah sungai klawing di purbalingga dengan memakai kayak dan bukan perahu karet.
Mungkin ada sekitar 10 orang riverboarders, 2 kayakers dewasa (salah satunya pak made brown) menggunakan kayak hardcell dan ica bersama saya di inflatable kayak dan shafa memakai kayak putih hardcell.dan 1 perahu karet rescue (cukup surprise ketemu kawan lama , guntur salamander , kawan ketika jaman mahasiswa sering berarung jeram di berbagai sungai - mungkin sudah hampir 15 tahun tidak bertemu).
Pengarungan kita mulai dari point dago pojok, indonesia power. Air tadi pagi cukup bagus (tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil).seperti biasa pengarungan dengan berbagai moda ini dilakukan beriringan, ternyata jeramnya..hmmm..susah dideskripsiksn, karena sungai tidak terlalu dalam sehingga jeram yang terbentuk banyak batu batuan. Banyak arus yang mengarah ke batu batu besar , walhasil saya sempat 'nempel' di arus yang cukup keras, dan seperti biasa...sendal lepas 1 entah kemana..(ini terjadi juga di sungai Elo jogjakarta) , dan itu terjadi kalau saya pakai inflatable kayak bareng ica..hedeuuuh...Atau karena kita tidak konsentrasi karena memperhatikan shafa yang baru kali ini turun memakai kayak hardcell sendiri di sungai cikapundung.
Shafa yang mengekor di belakang kita juga cukup kerepotan ber manuver karena dia memakai kayak hardcell dengan alur arus yang tidak bisa diprediksikan di sungai ini. Walhasil, dia terbalik di tempat yang sama dengan kita. Saya cukup terhentak memperhatikan dia terbalik dan terbawa arus beberapa saat dengan posisi badan terbalik (ketika memakai kayak hardcell posisi tubuh kita 'terikat' dalam kayak karena ada semacam tutup (spraydeck) supaya air tidak masuk ke dalam kabin kayak.satu satunya cara untuk menyelamatkan diri ketika kayak terbalik adalah dengan eskimo roll (tehnik membalikkan tubuh dan kayak tanpa harus keluar dari kayak.
Wah asli sebagai emak2 saya tegang, panik..karena hanya bisa melihat dari jauh bagaimana shafa tidak bisa melakukan eskimo roll (meskipun dia sudah puluhan kali berhasil melakukan tehnik ini ketika latiham di kolam renang) mungkin sungai membuat panik bagi para pemula ketika terbalik atau kedalaman sungai yang tidak terlalu dalam membuat para kayaker susah melakukan eskimo roll. Tapi meskipun saya sangat panik, tegang, deg degan..saya percaya Insha Allah shafa selamat karena di depan telah banyak om2 dari riverboarding dan kayakers yang telah menunggu di arus yang tenang. Dan pada akhirnya memang shafa bisa melakukan wet exit (jalan emergency kalau terbalik yaitu melepaskan spraydeck dari kayak dan berenang melepaskan diri dari kayak dengan resiko terpisah dari kayak dan dayung).
Dan ini terjadi dua kali, terjadi lagi di jeram leuwi beurit, yang memang menurut saya jeram itu cukup berat karena kayakers harus bermanuver lincah mengikuti arus di penyempitan sungai (mirip bottle neck) arus nya kencang sekali dan ada beberapa belokan tajam.saya sendiri sejak shafa terbalik yang pertama kali memutuskan ikut di perahu karet rescue supaya inflatable kayak mudah bermanuver dan mengejar shafa kalau terjadi terbalik lagi (jd ica sendirian di inflat kayak). Meskipun ternyata di perahu karet juga hmm..lumayan tidak mudah karena di sungai dengan kondisi arus yang 'kurang tebal' menjadikan seluruh crew rescuers jugs berjuang keras mengarungi sungai karena berkali kali terjebak di bebatuan.
Dan terjadi deh..kebalik yang kedua kali..diawali dengan ica yang terbalik juga (kalau inflatable kayak terbalik lebih mudah untuk menyelamatkan diri karena tidak terikat spraydeck). Disusul kayak shafa yang datang lebih dulu dalam keadaan terbalik, dan shafa yang terjebak di batu besar di tengah sungai. Agak lama bagi shafa untuk menceburkan diri mengikuti arus kencang di botle neck dan akhirnya dia berani setelah dia nyebur memakai board milik salah satu pemain riverboarding.
Saya menghikmati bahwa bagaimanapun ketika seorang pengarung jeram yang pernah dislokasi lutut, patah gigi, bilur dan memar yang tidak terhitung ketika di sungai di masa mudanya, ketika mempunyai anak, melihat anak kita bermain main dengan adrenalin (apa bedanya dengan saya dulu ketika muda kan..) maka kita akan merasa nyali yang menciut. Saya memandang sungai lebih berdebar dari biasanya, saya berulangkali meminta shafa berhenti dan naik saja tidak perlu melanjutkan pengarungan. Tapi dia jadi seperti saya dulu, saya dulu tidak bisa dilarang untuk tidak ke sungai.. Karena saya jatuh cinta pada sungai sejak pertama kali kawan saya rina dan mas adri mengajak saya ke sungai. Dan saya melihat kecintaan akan tantangan dalam diri gadis kecil itu . Bahkan dia memulai di usia yang jauh lebih muda dari saya dulu. saya mulai berarung jeram umur 21 tahun, shafa mulai di umur 3,5 tahun, saya tidak pernah bernyali mencoba kayak hardcell sementara dia belajar kayak sejak umur 10 tahun. It runs in her blood...
Dan saya jadi tahu bagaimana rasanya ibu saya dulu deg deg an menunggu saya pulang berarung jeram di cikandang yang saya bisa sampai ke rumah tengah malam, atau pergi berhari hari ke sungai serayu untuk support lomba arungjeram. Bagaimana ya rasanya emak saya menunggu dengan hanya membayangkan bagaimana anak gadisnya di sungai . Saya masih bs lebih tenang karena saya selalu ikut turun ke sungai ketika shafa berarung jeram atau main kayak. Maafkan anakmu ya mak..dulu sering bikin jantungan..
Tapi saya bangga, karena anak saya ternyata tidak ciut meskipun terbalik dia tetap ingin mengarungi sungai memakai kayak instead of pindah ke perahu, im proud of you girl..
Dan saya yakin, bisa jadi dia mulai jatuh cinta dengan sungai, seperti halnya saya puluhan tahun yang lalu.
Ayo gadisku..kembangkan sayapmu
Bersiap untuk terbang, karena dunia ini sangat menarik untuk kau jelajahi
Dan aku dengan senang hati melepasmu dari balik pelukan hangat, karena pengalaman tidak akan kau dapat hanya dari ceritaku saja
Karena aku yakin, kamu akan kembali setiap saat selepas berpetualang,
Karena disini rumahmu
Dan sungguh, kali ini saya pun kembali jatuh cinta dengan sungai..
*mulai lupa deh dengan masalah tulang belakang...
(yg katanya hnp terjadi karena saya sering jatuh dan terbentur di masa lalu)
Ah semoga air sungai juga yang akan menyembuhkan saya..
Saturday, January 19, 2013
We just live our life for today..
Kadang saya suka tertawa sendiri campur miris membaca timeline * thanks to david whoever (i am forget his full name) who change the world with facebook.
Teknologi memungkinkan kita menengok kembali hari kemarin, seminggu yang lalu, beberapa bulan yang lalu bahkan zip..dalam sekejap kita bisa kembali ke beberapa tahun yang lalu dalam sekali klik. Dan saat kita membuka kembali lini waktu mirip seperti menemukan kembali diary lama yang tersimpan dalam kotak.
Kekonyolan, kelucuan, kebodohan yang dilakukan berulang ulang, bahkan kenangan indah dapat dengan sekejap dibaca kembali, direnungkan kembali dan pada akhirnya hidup kita di masa depan akan berkaca pada pengalaman masa lalu.
Tapi pernahkah kita mengamati, apakah kita masih memakai 'topeng personality' yang sama? Masihkan kita dari tahun ke tahun terlihat mempunyai karakter yang sama?
Sepertinya kita selalu berubah..
Lihat saja perbedaan cara menulis kita dalam blog pribadi, dari waktu ke waktu cara bertutur dan apa yang kita torehkan berbeda jauh.
Jadi diri kita yang sebenarnya itu yang mana?
Dan bagi saya, betul juga seseorang pernah berkata bahwa tidak ada kepribadian yang sejati, yang ada topeng topeng yang berubah sesuai perubahan tuntutan jaman dan lingkungan kita. Itu tidak negatif, karena manusia adalah mahluk yang 'adaptable'..namun akan sangat menyedihkan ketika kita memasang topeng kepribadian hanya karena untuk memenuhi kepentingan diri sendiri belaka tanpa pernah memikirkan orang lain.
But after all,
History is just a mirror..
Dont be afraid of future
We just live in this time..
*menulis sambil melihat sebuah benang merah yang terentang dari dahulu sampai sekarang
Thursday, January 17, 2013
Wednesday, January 16, 2013
Angka empat
Saya sedang memikirkan sebuah angka..
Angka 4
Angka 4 adalah angka kedua setelah angka 1 yang berhasil saya tulis dengan rapi puluhan tahun yang lalu. Karena menulis angka 4 itu simple, hanya membuat garis garis bersentuhan dan jadilah angka 4 yang sempurna...
Angka 4 untuk usia anak adalah 'menyenangkan' karena anak berusia 4 tahun penuh rasa ingin tahu, mengeksplorasi banyak kata, berusaha mengungkapkan isi hati dan pikiran dalam bahasa, senang berlari kesana kemari , menjelajah tempat tempat yang baru , mencoba kegiatan baru, banyak tertawa dan tidak mengenal kata sedih..meskipun kadang tidak menyadari banyak bahaya di sekeliling dan tidak mengenal arti kata resiko..
Angka 4 juga menyenangkan secara psikologis bagi saya karena 4 membuat saya mudah dalam urusan berhitung, membagi, mengalikan..sederhana...hehe
Angka 4 kalau dalam hitungan waktu, semisal 4 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk menambah uban, mengurangi berat badan, menambah ratusan ide baru, semakin mengerti, menjalani hari hari, menambah kenangan, mengenal seseorang, dan mengurangi jatah umur yang entah tinggal berapa lama
Ah..angka 4 itu menyenangkan..
Dan saya berharap masih bisa mencintai angka angka setelahnya..5,6,7,8..dan selamanya...
(meskipun bisa jadi dalam hitung berhitung semakin rumit)
Oh my,tahun ini saya akan berusia 40 tahun...akan jadi usia dgn kebahagiaan yg semakin lengkap dan kenapa pula hidup spt berhenti di 20 tahun yang lalu ya
*tulisan paling ga jelas dalam beberapa hari ini
Angka 4
Angka 4 adalah angka kedua setelah angka 1 yang berhasil saya tulis dengan rapi puluhan tahun yang lalu. Karena menulis angka 4 itu simple, hanya membuat garis garis bersentuhan dan jadilah angka 4 yang sempurna...
Angka 4 untuk usia anak adalah 'menyenangkan' karena anak berusia 4 tahun penuh rasa ingin tahu, mengeksplorasi banyak kata, berusaha mengungkapkan isi hati dan pikiran dalam bahasa, senang berlari kesana kemari , menjelajah tempat tempat yang baru , mencoba kegiatan baru, banyak tertawa dan tidak mengenal kata sedih..meskipun kadang tidak menyadari banyak bahaya di sekeliling dan tidak mengenal arti kata resiko..
Angka 4 juga menyenangkan secara psikologis bagi saya karena 4 membuat saya mudah dalam urusan berhitung, membagi, mengalikan..sederhana...hehe
Angka 4 kalau dalam hitungan waktu, semisal 4 tahun adalah waktu yang cukup lama untuk menambah uban, mengurangi berat badan, menambah ratusan ide baru, semakin mengerti, menjalani hari hari, menambah kenangan, mengenal seseorang, dan mengurangi jatah umur yang entah tinggal berapa lama
Ah..angka 4 itu menyenangkan..
Dan saya berharap masih bisa mencintai angka angka setelahnya..5,6,7,8..dan selamanya...
(meskipun bisa jadi dalam hitung berhitung semakin rumit)
Oh my,tahun ini saya akan berusia 40 tahun...akan jadi usia dgn kebahagiaan yg semakin lengkap dan kenapa pula hidup spt berhenti di 20 tahun yang lalu ya
*tulisan paling ga jelas dalam beberapa hari ini
Saturday, January 12, 2013
Dan ini masih tentang pendidikan
Kemarin bicara tentang guru..
Sekarang tentang kurikulum 2013
Sebetulnya kalau melihat draft kurikulum 2013 ternyata masih kelanjutan KTSP yang sdh 6 tahun belakangan digunakan di Indonesia. Target pencapaian kurikulum masih berkutat sama dgn KTSP yaitu kompetensi pengetahuan, sikap dan prilaku. Tapi mari kita lihat celah celah yang bisa jadi menjadi kelemahan (paling enak memang mengkritisi hasil kerja pemerintah haha...padahal kl saja kita diberi beban itu gempor juga tuh).
KTSP diatas konsep dan kertas merupakan kurikulum yang 'lebih bebas, mengakomodir kreatifitas guru seluas luasnya' dibandingkan kurikulum sebelumnya semenjak tahun 1947. Pemerintah hanya mencanangkan kompetensi yang harus dicapai anak baik secara kognitif, afektif dan psikomotor. Selebihnya diserahkan pada setiap lembaga pendidikan bahkan dgn adanya desentralisasi pemerintahan pun akhirnya setiap daerah dapa berbeda2 dlm mencapai kompetensi ini. Mungkin para penggagas KTSP berfikir Indonesia dgn kebhinekaannya membutuhkan kebebasan penyelenggaraan pendidikan termasuk didalamnya eksplorasi pembelajaran bermuatan budaya lokal. Namun setelah 6 tahun penyelenggaraan KTSP bisa dilihat banyak sekali hal hal yang perlu di evaluasi. Contohnya saja, kreatifitas guru dlm mengolah pembelajaran supaya mencapai kompetensi itu membutuhkan kerja keras karena model pembelajaran yang 'membebaskan' ini kan baru saja diterapkan di indonesia. Sebelumnya bentuk kurikulm cenderng bersifat top down, artinya semua sdh dirancangkan, bahkan buku ajar sdh disediakan. Dan ketika KTSP tidak ada buku ajar maka guru mungkin sedikit keteteran untuk menyajikan pembelajaran krn mereka harus mempersiapkan metode, media, bahkan sampa pada lembar kerja pun diolah oleh guru (harusnya) .
Namun apabila diamati ya tetap saja, karena sistem penilaian masih ujian nasional yang beraifat menguji kompetensi kognitif saja dan disamakan seluruh Indonesia maka mau tidak mau sistem pembelajaran akan sulit mengarah pada penilaian aspek lain selain kognitif. La wong standar masuk jenjang selanjutnya seperti SMP atau SMA masih standar nilai UAN a.k.a nilai kognitif saja maka guru, orangtua, sekolah akan memilih lebih banyak mementingkan aspek in saja di waktu sekolah yang singkat.
Belum masalah kinerja guru yang pada saat penerapan KTSP mengalami lonjakan dari aspek penggajian yang cukup tinggi dengan asumsi supaya guru konsentrasi dlm mengajar. Yang terjadi adalah banyak sekali guru yg disibukkan dengan mekanisme 'penambahan gaji' lewat sertifikasi. Sudah jadi rahasia umum beberapa tahun terakhir guru sibuk ikut seminar untuk sertifikasi(meskipun seminar asal dtg saja spy mendapatkan sertifikat) dan pada akhirnya bukan pengetahuan tambahan yang didapatkan tapi banyak juga yang mendapat tips dan trick mendapat sertifikat (banyak kasus sertifikat pelatihan dan seminar palsu)., duh... Parah...mau jadi apa negara ini kalau guru sang pendidik menggunakan kecerdasannya untuk berbohong, memanipulasi.
Tapi saya banyak juga kok menemukan guru guru yang tulus, haus akan ilmu dan betul betul membaktikan hidupnya untuk kemajuan pendidikan. Sayangnya kadang guru guru yang spt ini terlibas dengan urusan politik persekolahan seperti paksaan supaya semua murid lulus UAN dari sekolah dll
Kembali ke kurikulum 2013, saya melihat itu sbg upaya pemerintah untuk merevisi KTSP secara praktek d lapangan dengan segala kelemahannya. Saya melihat dengan penambahan jam belajar mungkin pemerintah bermaksud menambal kekurangan sebelumnya supaya pembelajaran tidak hanya bertitik berat pada pengembanan kognitif tapi mulai memberi perhatian lebih pada aspek lain seperti kemampuan berkomunikasi, beradaptasi , kepemimpinan dan keterampilan hidup lainnya. Mungkin maksud pemerintah dengan pembelajaran tematik untuk seluruh level di sd ini pun untuk mengakomodir hal tsb karena pembelajaran dengan sistem tematik sangat memungkinkan tereksplornya keterampilan keterampilan tsb.
Tapi kalau diamati ya tetap lah akan ada kendala besar, karena tematik jelas membutuhkan keterampilan kreatifitas dan kemauan kerja keras guru. Mereka harus merangkum pembelajaran sehari hari mengarah pada satu tema, mirip seperti seorang dirigen memimpin orkestra musik supaya berjalan smooth, enak didengar dan mendapat applause meriah dari penonton.anak harus diarahkan supaya merasakan pembelajaran d kelas seperti petualangan indah menjelajah pengetahuan dalam tema, sehingga dia tidak sadar telah menguasai berbagai materi pelajaran dari petualangan tersebut.
Saya yakin banyak guru d Indonesia yang cerdas dan kreatif sehingga bisa merancang kelas menjadi ajang petualangan seperti ini. Tapi apa mau dikata kalau ternyata sistem ujian untuk ke jenjang selanjutnya masih berkutat dengan penilaian kognitif spt UAN ? Tidakkah akan terjebak pada lubang yang sama?
Dan bagaimana dengan guru guru yang terkendala dengan kreatifitas yang belum terolah dan terlatih? Pemerintah mempunyai jawaban dengan akan adanya sistem pelatihan yang menyeluruh dan lebih terapan. Meanwhile, katanya sih pemerintah akan membuat buku buku ajar yg sifatnya tematik supaya guru tinggal pakai saja. Ini akan mengundang banyak kendala juga karena kreatifitas tidak akan berkembang kalau guru sudah merasa ada buku ajar yg tinggal mereka gunakan dalam kelas,mereka akan malas memikirkan cara pembelajaran lain. Dan apakah buku ajar ini akan berlaku secara universal sementara anak anak sekolah di Indonesia tersebar di puluhan lokasi, puluhan latar belakang budaya yang berbeda dan kondisi keseharian yang jauh berbeda satu sama lain?
Ini baru di satu sisi mengenai konten kurikulum, belum membahas imbas secara sosial ekonomi dan budaya dari perpanjangan jam pelajaran di sekolah sehingga anak anak seperti belajar sehari penuh tapi dengan kapasitas sekolah untuk mengembangkan seluruh potensi anak masih minim. Dan aspek aspek lain yang harus diamati di lapangan...
Yah memang di negara spt Indonesia yang mempunya banyak budaya dibutuhkan para 'dewa' untuk mendesain sebuah kurikulum yang tepat sasaran.
Dan saya merasa kita para pengamat at least banyak berdoa supaya urusan pendidikan tidak tercampuri dengan urusan KKN yang duuuh menyedihkan laaah karena 'ini pendidikan' karena disinilah kita mencetak anak anak kita menjadi manusia macam apa di masa depan...
Dan saya cuma bisa berdoa semoga anak anak saya jauuuuh lebih baik dari orangtuanya di masa kini. Amin...
Sekarang tentang kurikulum 2013
Sebetulnya kalau melihat draft kurikulum 2013 ternyata masih kelanjutan KTSP yang sdh 6 tahun belakangan digunakan di Indonesia. Target pencapaian kurikulum masih berkutat sama dgn KTSP yaitu kompetensi pengetahuan, sikap dan prilaku. Tapi mari kita lihat celah celah yang bisa jadi menjadi kelemahan (paling enak memang mengkritisi hasil kerja pemerintah haha...padahal kl saja kita diberi beban itu gempor juga tuh).
KTSP diatas konsep dan kertas merupakan kurikulum yang 'lebih bebas, mengakomodir kreatifitas guru seluas luasnya' dibandingkan kurikulum sebelumnya semenjak tahun 1947. Pemerintah hanya mencanangkan kompetensi yang harus dicapai anak baik secara kognitif, afektif dan psikomotor. Selebihnya diserahkan pada setiap lembaga pendidikan bahkan dgn adanya desentralisasi pemerintahan pun akhirnya setiap daerah dapa berbeda2 dlm mencapai kompetensi ini. Mungkin para penggagas KTSP berfikir Indonesia dgn kebhinekaannya membutuhkan kebebasan penyelenggaraan pendidikan termasuk didalamnya eksplorasi pembelajaran bermuatan budaya lokal. Namun setelah 6 tahun penyelenggaraan KTSP bisa dilihat banyak sekali hal hal yang perlu di evaluasi. Contohnya saja, kreatifitas guru dlm mengolah pembelajaran supaya mencapai kompetensi itu membutuhkan kerja keras karena model pembelajaran yang 'membebaskan' ini kan baru saja diterapkan di indonesia. Sebelumnya bentuk kurikulm cenderng bersifat top down, artinya semua sdh dirancangkan, bahkan buku ajar sdh disediakan. Dan ketika KTSP tidak ada buku ajar maka guru mungkin sedikit keteteran untuk menyajikan pembelajaran krn mereka harus mempersiapkan metode, media, bahkan sampa pada lembar kerja pun diolah oleh guru (harusnya) .
Namun apabila diamati ya tetap saja, karena sistem penilaian masih ujian nasional yang beraifat menguji kompetensi kognitif saja dan disamakan seluruh Indonesia maka mau tidak mau sistem pembelajaran akan sulit mengarah pada penilaian aspek lain selain kognitif. La wong standar masuk jenjang selanjutnya seperti SMP atau SMA masih standar nilai UAN a.k.a nilai kognitif saja maka guru, orangtua, sekolah akan memilih lebih banyak mementingkan aspek in saja di waktu sekolah yang singkat.
Belum masalah kinerja guru yang pada saat penerapan KTSP mengalami lonjakan dari aspek penggajian yang cukup tinggi dengan asumsi supaya guru konsentrasi dlm mengajar. Yang terjadi adalah banyak sekali guru yg disibukkan dengan mekanisme 'penambahan gaji' lewat sertifikasi. Sudah jadi rahasia umum beberapa tahun terakhir guru sibuk ikut seminar untuk sertifikasi(meskipun seminar asal dtg saja spy mendapatkan sertifikat) dan pada akhirnya bukan pengetahuan tambahan yang didapatkan tapi banyak juga yang mendapat tips dan trick mendapat sertifikat (banyak kasus sertifikat pelatihan dan seminar palsu)., duh... Parah...mau jadi apa negara ini kalau guru sang pendidik menggunakan kecerdasannya untuk berbohong, memanipulasi.
Tapi saya banyak juga kok menemukan guru guru yang tulus, haus akan ilmu dan betul betul membaktikan hidupnya untuk kemajuan pendidikan. Sayangnya kadang guru guru yang spt ini terlibas dengan urusan politik persekolahan seperti paksaan supaya semua murid lulus UAN dari sekolah dll
Kembali ke kurikulum 2013, saya melihat itu sbg upaya pemerintah untuk merevisi KTSP secara praktek d lapangan dengan segala kelemahannya. Saya melihat dengan penambahan jam belajar mungkin pemerintah bermaksud menambal kekurangan sebelumnya supaya pembelajaran tidak hanya bertitik berat pada pengembanan kognitif tapi mulai memberi perhatian lebih pada aspek lain seperti kemampuan berkomunikasi, beradaptasi , kepemimpinan dan keterampilan hidup lainnya. Mungkin maksud pemerintah dengan pembelajaran tematik untuk seluruh level di sd ini pun untuk mengakomodir hal tsb karena pembelajaran dengan sistem tematik sangat memungkinkan tereksplornya keterampilan keterampilan tsb.
Tapi kalau diamati ya tetap lah akan ada kendala besar, karena tematik jelas membutuhkan keterampilan kreatifitas dan kemauan kerja keras guru. Mereka harus merangkum pembelajaran sehari hari mengarah pada satu tema, mirip seperti seorang dirigen memimpin orkestra musik supaya berjalan smooth, enak didengar dan mendapat applause meriah dari penonton.anak harus diarahkan supaya merasakan pembelajaran d kelas seperti petualangan indah menjelajah pengetahuan dalam tema, sehingga dia tidak sadar telah menguasai berbagai materi pelajaran dari petualangan tersebut.
Saya yakin banyak guru d Indonesia yang cerdas dan kreatif sehingga bisa merancang kelas menjadi ajang petualangan seperti ini. Tapi apa mau dikata kalau ternyata sistem ujian untuk ke jenjang selanjutnya masih berkutat dengan penilaian kognitif spt UAN ? Tidakkah akan terjebak pada lubang yang sama?
Dan bagaimana dengan guru guru yang terkendala dengan kreatifitas yang belum terolah dan terlatih? Pemerintah mempunyai jawaban dengan akan adanya sistem pelatihan yang menyeluruh dan lebih terapan. Meanwhile, katanya sih pemerintah akan membuat buku buku ajar yg sifatnya tematik supaya guru tinggal pakai saja. Ini akan mengundang banyak kendala juga karena kreatifitas tidak akan berkembang kalau guru sudah merasa ada buku ajar yg tinggal mereka gunakan dalam kelas,mereka akan malas memikirkan cara pembelajaran lain. Dan apakah buku ajar ini akan berlaku secara universal sementara anak anak sekolah di Indonesia tersebar di puluhan lokasi, puluhan latar belakang budaya yang berbeda dan kondisi keseharian yang jauh berbeda satu sama lain?
Ini baru di satu sisi mengenai konten kurikulum, belum membahas imbas secara sosial ekonomi dan budaya dari perpanjangan jam pelajaran di sekolah sehingga anak anak seperti belajar sehari penuh tapi dengan kapasitas sekolah untuk mengembangkan seluruh potensi anak masih minim. Dan aspek aspek lain yang harus diamati di lapangan...
Yah memang di negara spt Indonesia yang mempunya banyak budaya dibutuhkan para 'dewa' untuk mendesain sebuah kurikulum yang tepat sasaran.
Dan saya merasa kita para pengamat at least banyak berdoa supaya urusan pendidikan tidak tercampuri dengan urusan KKN yang duuuh menyedihkan laaah karena 'ini pendidikan' karena disinilah kita mencetak anak anak kita menjadi manusia macam apa di masa depan...
Dan saya cuma bisa berdoa semoga anak anak saya jauuuuh lebih baik dari orangtuanya di masa kini. Amin...
Thursday, January 10, 2013
Satu sisi kecil dalam perubahan kurikulum 2013
Sedikit serius soal pendidikan di indonesia.
Baru baru ini mendikbud menguji publik kurikulum 2013 , kalau dibaca sekilas kurikulumnya ideal banget. Coba saja lihat titik berat target pembelajaran di sekolah mulai beralih pada 'pengembangan karakter, aspek kepribadian dan keterampilan hidup' untuk anak. Bagus sebetulnya (diatas kertas), saya yakin mereka menyusun ini bersama para ahli pendidikan di negara ini.
Tapi sepertinya ada beberapa hal yang perlu dikritisi. Saya sangat menyoroti guru sebagai ujung tombak proses pendidikan. Mereka ibaratnya adalah koki yang akan mengolah bahan bahan mentah dan menyajikan dengan sedemikian rupa di meja perhidangan pembelajaran anak anak.
Mari kita lihat profil guru saat ini, at least guru guru yang saya amati baik di sekolah anak saya maupun di beberapa sekolah di kota bandung dan sekitarnya.
Sangat banyak guru guru yang bekerja dengan baik , berusaha meningkatkan kualitas pembelajaran di kelasnya, namun sayangnya birokrasi, ketidakadilan thd guru sering terjadi. Urusan KKN sering menjadikan guru guru yang baik kurang aksesibilitas pada pelatihan pelatihan yang diselenggarakan pemerintah. Bahkan mereka akhirnya seperti berjuang sendiri di tengah hiruk pikuk dunia pendidikan, mereka tidak tersentuh.
Kemudian sebagian besar guru lainnya disibukkan dengan urusan sertifikasi , mencari celah menambah penghasilan dan urusan yang tidak berkaitan langsung dengan pembelajaran dalam kelas tapi lebih banyak pada pemenuhan aspek ekonomi pribadi saja. Ketika timbul ide ide baru maka yang terpikir adalah 'shortcut' alias jalan pintas, contoh paling mudah mengajar adalah dgn memberikan lks atau cara belajar instan lainnya. Tidak ada passion mengenai proses merekonstruksi pengetahuan, menyusun tahap demi tahap skema pengetahuan anak melalui proses 'learning by process and doing'. Bisa jadi itu karena jalan hidup selama ini sering melakukan hal ini, jalan pintas untuk segera mendapat uang sertifikasi, jalan pintas untuk segera naik golongan dan kepangkatan. Tidak ada waktu untuk membuat pembelajaran lebih menyenangkan atau mencari hal hal baru. Yang penting anak anak lulus UAN, apapun caranya cengan cara mudah, singkat dan tidak menyulitkan.
Dan pada akhirnya fenomena ini terlihat menjadi bola salju, di satu sisi guru dengan segala permasalahannya belum terpecahkan. Sementara di sisi lain para ahli pendidikan di Indonesia telah menuliskan segala ide brilian, konsep konsep pendidikan yang sangat ideal dengan segala target sasaran yang 'indah' dalam perubahan kurikulum tahun 2013. Mirisnya ini mirip lingkaran setan yang belum terpecahkan. Apa yang akan diperbaiki terlebih dahulu, cara belajar atau konten dalam kurikulum ataukah memeperbaiki kualitas guru? Nobody know for sure, berbagai pendekatan yang dilakukan dalam perubahan kurikulm selama ini pada akhirnya adalah trial and error.
Dan pada akhirnya siapakah yang menjadi pemenang? Ah rasa rasanya di negeri penuh korupsi,kolusi dan nepotisme ini masih akan ada pihak pihak yang menangguk keuntungan dari setiap perubahan. Apakah para mafia proyek proyek di dinas pendidikan yang pastinya bakal melihat celah emas dari proyek pengembangan guru atau pembuatan buku ajar. Atau para oknum birokrat yang melihat banyak rupiah di dalam setiap proses perubahan.And still..money talk...
* kesimpulannya, harus banyak berdoa...
Karena selemah lemahnya yang bisa dilakukan adalah berdoa.
Baru baru ini mendikbud menguji publik kurikulum 2013 , kalau dibaca sekilas kurikulumnya ideal banget. Coba saja lihat titik berat target pembelajaran di sekolah mulai beralih pada 'pengembangan karakter, aspek kepribadian dan keterampilan hidup' untuk anak. Bagus sebetulnya (diatas kertas), saya yakin mereka menyusun ini bersama para ahli pendidikan di negara ini.
Tapi sepertinya ada beberapa hal yang perlu dikritisi. Saya sangat menyoroti guru sebagai ujung tombak proses pendidikan. Mereka ibaratnya adalah koki yang akan mengolah bahan bahan mentah dan menyajikan dengan sedemikian rupa di meja perhidangan pembelajaran anak anak.
Mari kita lihat profil guru saat ini, at least guru guru yang saya amati baik di sekolah anak saya maupun di beberapa sekolah di kota bandung dan sekitarnya.
Sangat banyak guru guru yang bekerja dengan baik , berusaha meningkatkan kualitas pembelajaran di kelasnya, namun sayangnya birokrasi, ketidakadilan thd guru sering terjadi. Urusan KKN sering menjadikan guru guru yang baik kurang aksesibilitas pada pelatihan pelatihan yang diselenggarakan pemerintah. Bahkan mereka akhirnya seperti berjuang sendiri di tengah hiruk pikuk dunia pendidikan, mereka tidak tersentuh.
Kemudian sebagian besar guru lainnya disibukkan dengan urusan sertifikasi , mencari celah menambah penghasilan dan urusan yang tidak berkaitan langsung dengan pembelajaran dalam kelas tapi lebih banyak pada pemenuhan aspek ekonomi pribadi saja. Ketika timbul ide ide baru maka yang terpikir adalah 'shortcut' alias jalan pintas, contoh paling mudah mengajar adalah dgn memberikan lks atau cara belajar instan lainnya. Tidak ada passion mengenai proses merekonstruksi pengetahuan, menyusun tahap demi tahap skema pengetahuan anak melalui proses 'learning by process and doing'. Bisa jadi itu karena jalan hidup selama ini sering melakukan hal ini, jalan pintas untuk segera mendapat uang sertifikasi, jalan pintas untuk segera naik golongan dan kepangkatan. Tidak ada waktu untuk membuat pembelajaran lebih menyenangkan atau mencari hal hal baru. Yang penting anak anak lulus UAN, apapun caranya cengan cara mudah, singkat dan tidak menyulitkan.
Dan pada akhirnya fenomena ini terlihat menjadi bola salju, di satu sisi guru dengan segala permasalahannya belum terpecahkan. Sementara di sisi lain para ahli pendidikan di Indonesia telah menuliskan segala ide brilian, konsep konsep pendidikan yang sangat ideal dengan segala target sasaran yang 'indah' dalam perubahan kurikulum tahun 2013. Mirisnya ini mirip lingkaran setan yang belum terpecahkan. Apa yang akan diperbaiki terlebih dahulu, cara belajar atau konten dalam kurikulum ataukah memeperbaiki kualitas guru? Nobody know for sure, berbagai pendekatan yang dilakukan dalam perubahan kurikulm selama ini pada akhirnya adalah trial and error.
Dan pada akhirnya siapakah yang menjadi pemenang? Ah rasa rasanya di negeri penuh korupsi,kolusi dan nepotisme ini masih akan ada pihak pihak yang menangguk keuntungan dari setiap perubahan. Apakah para mafia proyek proyek di dinas pendidikan yang pastinya bakal melihat celah emas dari proyek pengembangan guru atau pembuatan buku ajar. Atau para oknum birokrat yang melihat banyak rupiah di dalam setiap proses perubahan.And still..money talk...
* kesimpulannya, harus banyak berdoa...
Karena selemah lemahnya yang bisa dilakukan adalah berdoa.
Subscribe to:
Comments (Atom)





