seseorang menulis dengan huruf besar, berulangkali mem'ping', memakai tanda seru seakan hal penting di dunia adalah yang ingin dia katakan, tanpa melihat apakah lawan bicaranya sedang rapat penting, menyetir atau bahkan hanya sekedar kehabisan batere sehingga telat me respons
Itulah dunia maya, ketika beberapa tahun belakangan betapa semua manusia menjadi dekat satu sama lain, waktu dan jarak pun tidak menjadi hambatan, dunia seakan dilipat. Kita bisa merasa sangat dekat, merasa seperti saudara kandung, mencintai bahkan merindukan manusia manusia yang entah ketika mengetik di dunia maya bisa jadi tidak mewakili kondisi sebenarnya, dilakukan sepintas lalu, tidak serius, bahkan bisa jadi sambil ngupil :D.
Itulah teknologi, seperti dua sisi pedang..yang bisa mengasah dan meraut sebuah pensil menjadi tajam atau malah 'memacung' kepala kita sebagai user. Beberapa kali saya membuktikan 'citra' sesuatu dapat dibentuk dengan mudah melalui media internet, tinggal hujanilah para follower dengan membuka diri kita seluas luasnya dan konsistenlah dengan citra itu dan tadaaa...kita akan dikenal dengan labelling tertentu. Marketing saya pikir sangat berhubungan dengan hal ini, ketika kita mencitrakan diri sebagai bagian dari sebuah komunitas, perusahaan, organisasi tertentu maka label kita akan menjadi citra lembaga apalagi ketika kita dalam posisi menjadi pimpinan.
Namun di sisi lain banyak jebakan dalam dunia online , berkali kali saya terjebak dalam pembicaraan berkepanjangan, berbelit belit hanya membahas hal yang sebetulnya tidak urgent dalam sebuah grup online atau komentar status di facebook dan pada akhirnya yang tersisa energi yang habis, exhausted dan kadang diakhiri dengan 'framing' dan 'stereotyping' pada satu dua orang yang melekat. sangat disayangkan ketika seseorang merusak citra diri dengan 'gaya menulis' yang tidak tepat - bisa jadi berbeda dengan dirinya yang sebenarnya - diperparah dengan tidak menempatkan rasa bahasa pada tulisan akhirnya menjadikan citra dirinya meluncur tajam.Untuk manusia dewasa selaiknya menggunakan social media dengan bijak karena para pengguna media online yang sifatnya sangat pribadi masih membutuhkan manusia yang mencerminkan diri sendiri, mempunyai 'online manner', dan memakai gradasi komunikasi yang tepat.
Saya sendiri sedang berusaha sangat amat keras untuk menghentikan diri saya menekan tombol narcistic dalam diri dengan mengurangi 'pengumuman pada seluruh dunia' tentang hal hal yang pribadi dan mulai mengalihkan social media sebagai ajang branding ecoethno dan beberapa hal yang sifatnya organisasi yang dilekatkan pada figur pribadi. Belum lagi energi saya habis untuk setengah mati menahan agar tidak bersikap 'sinis' dan 'menyerang' pada orang lain secara online karena ketidaksabaran dalam menghadapi orang orang yang tidak mempunyai orisinalitas (misalnya meniru gaya online branding orang lain dalam segala hal) berfikir lambat, sulit menangkap makna, terlalu banyak komentar dan wall yang penuh dengan keluhan..(ini saya lagi mengeluh juga yak :D). ..
so thats it..
sometimes we never know which one is the best part or worse...
maybe i am the part of the worse...sigh
Wednesday, December 4, 2013
Monday, November 18, 2013
Wanita..engkau tidak sendiri...
Berbicara soal wanita memang tidak ada habisnya. Mahluk unik dari 'planet'yang berbeda dengan pria, men are from mars, women are from venus. Sehingga 'bahasa' yang digunakan pun berbeda,wanita penuh dengan detail, kata kata, dan bicara untuk melepas ketegangan..sementara pria kembali ke 'gua' nya, berdiam diri, berfikir ketika mencari solusi..
Tidak ada yang salah dengan keduanya..
Namun wanita terbukti pintar memainkan perannya,mereka bisa berperan menjadi seorang ibu yang lemah lembut, seorang partner yang mengatur semua detil detil bak organizer handal di keluarga, seorang kekasih yang selalu siap menjadi tempat berlabuh suaminya dan seorang pengurus keluarga yang menyimpan lelah, airmata dan kekesalan hanya di dalam hati dan cukup dengan berbincang dengan sesama wanita semua rasa negatif akan hilang berganti dengan keceriaan ketika bersama keluarga..
Dan saya melihat kekuatan wanita pada seorang wanita berhati baik seluas samudera dan kesabaran sedalam lautan..
Dia melalui sekian belas tahun hari harinya untuk menjadi pendamping suaminya ketika melalui jalanan panjang hampir 200 km memakai sepeda motor di jalan berbatu yang rusak hanya untuk membeli buku buku pelajaran untuk murid murid di smp gratis mereka di sebuah desa terpencil nun di ujung selatan kabupaten garut.
Sangat wajar untuk semua manusia mendambakan kehidupan dunia yang mapan, nyaman, dan serba berkecukupan. Namun panggilan jiwa membawa wanita ini pada kehidupan lain yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bahwa ia harus membantu suami membuat makan pagi untuk sekian puluh murid di sekolah gratisnya agar anak anak di desa itu mau bersekolah dan mungkin dia menyembunyikan rasa lelah dan pilu melihat kondisi sekitarnya di balik doa doa . Kekuatan dahsyat lah yang akhirnya membawa wanita ini pada kondisi memilih, ketika anak anak mereka harus terpisahkan di usia dini karena harus melanjutkan ke jenjang sekolah yg lebih tinggi yang hanya bisa di dapatkan di perkotaan sementara ia pun terbentur pada puluhan murid murid yang harus ia ajar setiap hari di sana, karena guru yang ada hanya ia, suaminya dan satu orang penduduk asli desa tsb.
Berbagai cobaan dalam hidup, suka duka wanita ini hanya satu dari 10 penulis yang bergabung dalam buku ' Takkan pernah menyerah'. Buku kecil yang ditulis oleh wanita wanita biasa biasa saja dengan pengalaman hidup masing masing ini adalah sebagian kecil cerita tentang bagaimana para wanita dengan kekuatan diri, ketabahan dan saling berpegang tangan dengan wanita lain menjadi kekuatan dalam menghadapi kehidupan yang tidak mudah. Semoga inspirasi dalam buku ini dapat memberi kekuatan pada wanita lain di seluruh belahan penjuru dunia bahwa Engkau tidak sendiri...
*buku yang disusun oleh komunitas AAB ini akan diluncurkan dalam talkshow gratis memperingati hari ibu : 'tak kan menyerah'
Supported by : Mizan,BCCF,Pas itb
21 desember 2013,gsg salman itb jam 13-16
Rsvp by twitter : @AABcommunity
08121405647
Tidak ada yang salah dengan keduanya..
Namun wanita terbukti pintar memainkan perannya,mereka bisa berperan menjadi seorang ibu yang lemah lembut, seorang partner yang mengatur semua detil detil bak organizer handal di keluarga, seorang kekasih yang selalu siap menjadi tempat berlabuh suaminya dan seorang pengurus keluarga yang menyimpan lelah, airmata dan kekesalan hanya di dalam hati dan cukup dengan berbincang dengan sesama wanita semua rasa negatif akan hilang berganti dengan keceriaan ketika bersama keluarga..
Dan saya melihat kekuatan wanita pada seorang wanita berhati baik seluas samudera dan kesabaran sedalam lautan..
Dia melalui sekian belas tahun hari harinya untuk menjadi pendamping suaminya ketika melalui jalanan panjang hampir 200 km memakai sepeda motor di jalan berbatu yang rusak hanya untuk membeli buku buku pelajaran untuk murid murid di smp gratis mereka di sebuah desa terpencil nun di ujung selatan kabupaten garut.
Sangat wajar untuk semua manusia mendambakan kehidupan dunia yang mapan, nyaman, dan serba berkecukupan. Namun panggilan jiwa membawa wanita ini pada kehidupan lain yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bahwa ia harus membantu suami membuat makan pagi untuk sekian puluh murid di sekolah gratisnya agar anak anak di desa itu mau bersekolah dan mungkin dia menyembunyikan rasa lelah dan pilu melihat kondisi sekitarnya di balik doa doa . Kekuatan dahsyat lah yang akhirnya membawa wanita ini pada kondisi memilih, ketika anak anak mereka harus terpisahkan di usia dini karena harus melanjutkan ke jenjang sekolah yg lebih tinggi yang hanya bisa di dapatkan di perkotaan sementara ia pun terbentur pada puluhan murid murid yang harus ia ajar setiap hari di sana, karena guru yang ada hanya ia, suaminya dan satu orang penduduk asli desa tsb.
Berbagai cobaan dalam hidup, suka duka wanita ini hanya satu dari 10 penulis yang bergabung dalam buku ' Takkan pernah menyerah'. Buku kecil yang ditulis oleh wanita wanita biasa biasa saja dengan pengalaman hidup masing masing ini adalah sebagian kecil cerita tentang bagaimana para wanita dengan kekuatan diri, ketabahan dan saling berpegang tangan dengan wanita lain menjadi kekuatan dalam menghadapi kehidupan yang tidak mudah. Semoga inspirasi dalam buku ini dapat memberi kekuatan pada wanita lain di seluruh belahan penjuru dunia bahwa Engkau tidak sendiri...
*buku yang disusun oleh komunitas AAB ini akan diluncurkan dalam talkshow gratis memperingati hari ibu : 'tak kan menyerah'
Supported by : Mizan,BCCF,Pas itb
21 desember 2013,gsg salman itb jam 13-16
Rsvp by twitter : @AABcommunity
08121405647
Sunday, October 27, 2013
Dunia yang serba resah gelisah
Saya menulis ini beberapa hari setelah bertemu seorang teman lama.
Banyak orang mungkin termasuk saya selalu dipenuhi 'keresahan' atas apapun. Kalau tidak resah dalam hubungan manusia ya resah melihat kondisi sekitar. No wonder kalau saya buka kerudung pasti banyak yang terheran heran melihat uban di kepala wanita berparas anak mahasiswa tingkat 1 (hayaaaahhhh...mahasiswa s3 kali) .
Dan manusia selalu mencari jalan untuk melepaskan rasa resah, dengan cara masing masing pastinya, ada yang selalu membutuhkan teman untuk mendengarkan dia di jam makan siang, ada yang 'berisik'di socmed dengan status dan tulisan, ada yang tidak henti 'bicara' di grup grup bbm, whatsapp atau mailing list, dan ada yang menulis dalam blog. Tapi itu wajar, karena manusia itu mahluk sosial kan? Dia butuh manusia lain..
Bagi saya 'yang entah kenapa selalu menjadi tong sampah dari keluh kesah teman teman dekat' Saya melihat banyak hal yang kita takut dan resahkan karena sebetulnya bersumber dari ketakutan dan bayangan yang diciptakan kita lho..
Contoh, untuk resign dari sebuah perusahaan yang membuat kita nyaman selama ini dengan gaji tetap kemudian beranjak menjadi wirausahawan itu butuh kekuatan maha dahsyat terutama bagi laki laki sebagai kepala keluarga. Pastinya bayangan akan anak istri yang telantar karena penghasilan yang berubah menjadi tidak tetap begitu menghantui. Atau bagi wanita yang tidak bekerja, ibu rumah tangga, merasa tidak punya kapabilitas dan eksistensi, maka kehiilangan suami dalam bentuk apapun menjadi monster menakutkan sehingga ketika ada kondisi tertentu yang berarah pada 'kehilangan suami' resah dan panik menghantui..
Mari kita berfikir ulang, apakah ada di muka bumi ini yang tidak mendapatkan rejeki kalau dia berusaha? Meskipun usahanya adalah memasak nasi kuning di pagi hari dan menjualnya di halaman rumah.mungkin yang membuat resah adalah bagaimana hawa nafsu kita telah memenjarakan kita dalam simbol simbol status. Status istri berkecukupan yang bisa beli ini itu dengan bebas, bergaul ala sosialita yg berkutat di arisan,make up dan model baju terbaru, atau status suami yang bisa membawa anak istri liburan setiap 6 bulan,membanggakan sederet aset atau memanjakan anak anak dgn gadget terbaru..
Tapi sebenarnya apa sih cukup itu ?
Mungkin supaya hidup tenang , bahagia dan tidak panik meskipun jumlah uang di tabungan menipis atau bahkan tidak punya tabungan..kita musti me redefinisi kan kembali kata 'cukup' . Karena ketika kita tidak merasa cukup, disanalah sumber semua resah.
Suami yang tidak cukup baik untuk istri, istri yang tidak cukup berbakti bagi suami, rumah yang masih tidak cukup lapang untuk keluarga,sekolah yang tidak cukup baik untuk anak anak..semua dirasa selalu tidak cukup
Saya selalu percaya otak bisa di setting, menghadapi apapun dan merasa cukup itu adalah masalah setting. Dan jangan pernah melihat pada orang lain karena rumput tetangga selalu lebih hijau dari rumput di rumah kita.
Dan saya selalu mengingat ingat sebuah kalimat yang saya sendiri lupa dikutip dari mana -kalau tidak salah dari rumi-
Die before death..
Matilah sebelum mati..
Pandanglah dunia seadanya dan secukupnya...
Banyak orang mungkin termasuk saya selalu dipenuhi 'keresahan' atas apapun. Kalau tidak resah dalam hubungan manusia ya resah melihat kondisi sekitar. No wonder kalau saya buka kerudung pasti banyak yang terheran heran melihat uban di kepala wanita berparas anak mahasiswa tingkat 1 (hayaaaahhhh...mahasiswa s3 kali) .
Dan manusia selalu mencari jalan untuk melepaskan rasa resah, dengan cara masing masing pastinya, ada yang selalu membutuhkan teman untuk mendengarkan dia di jam makan siang, ada yang 'berisik'di socmed dengan status dan tulisan, ada yang tidak henti 'bicara' di grup grup bbm, whatsapp atau mailing list, dan ada yang menulis dalam blog. Tapi itu wajar, karena manusia itu mahluk sosial kan? Dia butuh manusia lain..
Bagi saya 'yang entah kenapa selalu menjadi tong sampah dari keluh kesah teman teman dekat' Saya melihat banyak hal yang kita takut dan resahkan karena sebetulnya bersumber dari ketakutan dan bayangan yang diciptakan kita lho..
Contoh, untuk resign dari sebuah perusahaan yang membuat kita nyaman selama ini dengan gaji tetap kemudian beranjak menjadi wirausahawan itu butuh kekuatan maha dahsyat terutama bagi laki laki sebagai kepala keluarga. Pastinya bayangan akan anak istri yang telantar karena penghasilan yang berubah menjadi tidak tetap begitu menghantui. Atau bagi wanita yang tidak bekerja, ibu rumah tangga, merasa tidak punya kapabilitas dan eksistensi, maka kehiilangan suami dalam bentuk apapun menjadi monster menakutkan sehingga ketika ada kondisi tertentu yang berarah pada 'kehilangan suami' resah dan panik menghantui..
Mari kita berfikir ulang, apakah ada di muka bumi ini yang tidak mendapatkan rejeki kalau dia berusaha? Meskipun usahanya adalah memasak nasi kuning di pagi hari dan menjualnya di halaman rumah.mungkin yang membuat resah adalah bagaimana hawa nafsu kita telah memenjarakan kita dalam simbol simbol status. Status istri berkecukupan yang bisa beli ini itu dengan bebas, bergaul ala sosialita yg berkutat di arisan,make up dan model baju terbaru, atau status suami yang bisa membawa anak istri liburan setiap 6 bulan,membanggakan sederet aset atau memanjakan anak anak dgn gadget terbaru..
Tapi sebenarnya apa sih cukup itu ?
Mungkin supaya hidup tenang , bahagia dan tidak panik meskipun jumlah uang di tabungan menipis atau bahkan tidak punya tabungan..kita musti me redefinisi kan kembali kata 'cukup' . Karena ketika kita tidak merasa cukup, disanalah sumber semua resah.
Suami yang tidak cukup baik untuk istri, istri yang tidak cukup berbakti bagi suami, rumah yang masih tidak cukup lapang untuk keluarga,sekolah yang tidak cukup baik untuk anak anak..semua dirasa selalu tidak cukup
Saya selalu percaya otak bisa di setting, menghadapi apapun dan merasa cukup itu adalah masalah setting. Dan jangan pernah melihat pada orang lain karena rumput tetangga selalu lebih hijau dari rumput di rumah kita.
Dan saya selalu mengingat ingat sebuah kalimat yang saya sendiri lupa dikutip dari mana -kalau tidak salah dari rumi-
Die before death..
Matilah sebelum mati..
Pandanglah dunia seadanya dan secukupnya...
Friday, October 18, 2013
Dan berhentilah memaki...
Daripada mengutuk kegelapan
Lebih baik nyalakan lilin
Dua kalimat dari anies baswedan itu ternyata kekuatannya hebat, bisa menggiring 400 manusia muda dari berbagai latar belakang pendidikan yang baru lulus kuliah untuk membaktikan diri menjadi pengajar muda di pelosok negeri selama setahun.
Bukan itu yang akan saya bahas kali ini. potensi intelektualitas dan keterbukaan arus komunikasi dan informasi saat ini menjadikan manusia lebih mudah menangkap berbagai macam fenomena sekaligus mengkritisinya. Media informasi dengan keran kebebasan seluas luasnya membuat kita mudah mencurahkan segala kritik, protes, masukan melalui social media. Bahkan salah seorang teman saya pernah berkomentar bahwa 'tembok ratapan' itu sudah berpindah dari yerusalem nun jauh disana ke wall di dinding fb kita atau kicauan twitter.
Di Satu sisi ini hal yang menggembirakan, bagaimana jarak, waktu dan ruang menjadi tiada arti. Di sisi lain, kecenderungan untuk banyak bicara menjadikan kita merasa bahwa dengan bicara, menulis, mengeluh, maki maki sudah menuntaskan kewajiban kita sebagai warga negara yg baik misalnya. Pastinya bakal banyak kalimat sejenis dengan 'saya sudah bayar pajak, pemerintah dong harua kerja keras'
Tidakkah terpikir bahwa negara atau kota deh yg scope nya lebih kecil akan memenuhi harapan kita menjadi tempat yang nyaman untuk dihuni kalau kita , bagian terbesar dari sebuah kota hanya bisa memaki, bersorak dari jauh tanpa pernah mau menggerakan diri, menggerakkan keluarga atau masyarakat sekitar untuk paling tidak melakukan sesuatu yg sederhana.
Saya sangat percaya bahwa pergerakan dengan adanya engagement (keterikatan sukarela) akan membawa energi besar pada perobahan dibandingkan setting program yang sifatnya top down. Banyak gerakan yang membawa pada keberhasilan melalui proses melibatkan semua orang bahwa banyak masalah di kehidupan kita itu bukan masalah pemerintah atau negara saja, tetapi itu menjadi masalah kita. Contoh, ketika banjir sudah melanda satu sektor diperkotaan karena letak daerah itu di bawah jalan raya sehingga ketika hujan air tumpah ruah ke perkampungan, maka masyarakat tidak lah sulit untuk diarahkan membersihkan selokan atau mengakomodir gaya hidup 'zero waste' . Dan itu adalah energi positif seperti halnya gerakan indonesia berkebun, gerakan indonesia mengajar dll. Itu karena masyaraka sudah mulai merasa bahwa masalah bukanlah semata berada di pemerintah sana, tetapi disini di dekat kita.
Sisi lain, ketika kita memaki, mengkritisi dengan energi negatif , maka yang terjadi adalah kacamata kita akan selalu berada dalam lensa negatif, hati kita akan selalu memandang dengan nyinyir mencari cari salah siapa dan bukan solusi kecil apa yang harus saya lakukan untuk membantu. Dan saya angkat topi tinggi tinggi untuk banyak relawan pekerja sosial di kota ini yang tidak perlu terlalu banyak mengutuk kegelapan, tetapi berusaha menyalakan lilin meskipun lilin itu kecil dan redup.tapi bukankah apabila ada ribuan lilin yang dinyalakan yang ada adalah terang di sekeliling kita ?
#curcol setelah seharian berjalan d sebuah kelurahan di kota bandung dan bertemu seseorang yang menginspirasi
Lebih baik nyalakan lilin
Dua kalimat dari anies baswedan itu ternyata kekuatannya hebat, bisa menggiring 400 manusia muda dari berbagai latar belakang pendidikan yang baru lulus kuliah untuk membaktikan diri menjadi pengajar muda di pelosok negeri selama setahun.
Bukan itu yang akan saya bahas kali ini. potensi intelektualitas dan keterbukaan arus komunikasi dan informasi saat ini menjadikan manusia lebih mudah menangkap berbagai macam fenomena sekaligus mengkritisinya. Media informasi dengan keran kebebasan seluas luasnya membuat kita mudah mencurahkan segala kritik, protes, masukan melalui social media. Bahkan salah seorang teman saya pernah berkomentar bahwa 'tembok ratapan' itu sudah berpindah dari yerusalem nun jauh disana ke wall di dinding fb kita atau kicauan twitter.
Di Satu sisi ini hal yang menggembirakan, bagaimana jarak, waktu dan ruang menjadi tiada arti. Di sisi lain, kecenderungan untuk banyak bicara menjadikan kita merasa bahwa dengan bicara, menulis, mengeluh, maki maki sudah menuntaskan kewajiban kita sebagai warga negara yg baik misalnya. Pastinya bakal banyak kalimat sejenis dengan 'saya sudah bayar pajak, pemerintah dong harua kerja keras'
Tidakkah terpikir bahwa negara atau kota deh yg scope nya lebih kecil akan memenuhi harapan kita menjadi tempat yang nyaman untuk dihuni kalau kita , bagian terbesar dari sebuah kota hanya bisa memaki, bersorak dari jauh tanpa pernah mau menggerakan diri, menggerakkan keluarga atau masyarakat sekitar untuk paling tidak melakukan sesuatu yg sederhana.
Saya sangat percaya bahwa pergerakan dengan adanya engagement (keterikatan sukarela) akan membawa energi besar pada perobahan dibandingkan setting program yang sifatnya top down. Banyak gerakan yang membawa pada keberhasilan melalui proses melibatkan semua orang bahwa banyak masalah di kehidupan kita itu bukan masalah pemerintah atau negara saja, tetapi itu menjadi masalah kita. Contoh, ketika banjir sudah melanda satu sektor diperkotaan karena letak daerah itu di bawah jalan raya sehingga ketika hujan air tumpah ruah ke perkampungan, maka masyarakat tidak lah sulit untuk diarahkan membersihkan selokan atau mengakomodir gaya hidup 'zero waste' . Dan itu adalah energi positif seperti halnya gerakan indonesia berkebun, gerakan indonesia mengajar dll. Itu karena masyaraka sudah mulai merasa bahwa masalah bukanlah semata berada di pemerintah sana, tetapi disini di dekat kita.
Sisi lain, ketika kita memaki, mengkritisi dengan energi negatif , maka yang terjadi adalah kacamata kita akan selalu berada dalam lensa negatif, hati kita akan selalu memandang dengan nyinyir mencari cari salah siapa dan bukan solusi kecil apa yang harus saya lakukan untuk membantu. Dan saya angkat topi tinggi tinggi untuk banyak relawan pekerja sosial di kota ini yang tidak perlu terlalu banyak mengutuk kegelapan, tetapi berusaha menyalakan lilin meskipun lilin itu kecil dan redup.tapi bukankah apabila ada ribuan lilin yang dinyalakan yang ada adalah terang di sekeliling kita ?
#curcol setelah seharian berjalan d sebuah kelurahan di kota bandung dan bertemu seseorang yang menginspirasi
Subscribe to:
Posts (Atom)
